Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Agustus 2012

I’TIKAF DI AKHIR RAMADHAN MENYAMBUT DATANGNYA LAILATUL QADAR


I’TIKAF DI AKHIR RAMADHAN MENYAMBUT 
DATANGNYA LAILATUL QADAR
selasa, 07 juli 2015
Penulis :  Widjaja Kartadiredja

Hadirin sidang jum’at rahimakumullah,
Nabi Saw bersabda: “Seandainya umatku mengetahui (semua keistimewaan) yang dikandung oleh bulan Ramadhan, niscaya mereka mengharapkan semua bulan menjadi Ramadhan”.   Ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang memiliki keitimewaan luar biasa dibading dengan bulan-bulan lainnya.  
Dalam Surat Albaqarah ayat 185 dijelaskan bahwa Alqur’an diturunkan pada bulan Ramadhan.  Dalam ayat lain, yakni dalam Surat Al Qadr (QS.97) ayat 1-3 Allah berfirman :
Artinya : (1). “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”;   (2). “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”    (3).  “Malam ke-mu-liaan itu lebih baik dari seribu bulan”. (QS. 97 : 1-3)
Malam kemuliaan itulah yang dimaksud dengan lailatul Qadr yaitu, suatu malam yang penuh kemuliaan dan keagungan, karena pada malam itu permulaan diturunkannya Al Quran. Beribadah pada malam itu pahalanya jauh lebih besar dan lebih baik dari pada beribadah selama seribu bulan.
Menurut penuturan kalangan ulama, sebelum manusia diciptakan, Alqur’an telah diturunkan ke Lauhil Mahfuzh (Lauhil Mahfuzh adanya di bawah langit ketujuh).  Malam qadar yang pertama yang menjumpai Nabi SAW adalah tatkala turunnya wahyu yang pertama (dari Lauhil Mahfuzh) ke bumi di Gua Hira.  Dalam keterangn lain diceritakan, malam qadar pun turun saat Nabi Musa berdialog dengan Tuhan di Bukit Thursina.
Dalam Tafsir Jalalain disebutkan, bahwa Ibnu Abu Hatim dan  Al Wahidi, keduanya telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Mujahid yang menceritakan, bahwa Rasulullah SAW pernah menceritakan seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil, yang menyandang senjata selama  seribu bulan untuk berjuang di jalan Allah.  Kaum muslimin merasa ta’jub atas hal tersebut, maka kemudian Allah menurunkan firman-Nya dalam Surat Al-Qadr ayat 1-3 seperti disebutkan di atas.  Maksudnya Allah menunjukkan bahwa beribadah pada malam kemuliaan itu (malam lailatul qadar) jauh lebih baik dan lebih besar pahalanya dari pada pahala seorang laki-laki yang menyandang senjata selama seribu bulan di jalan Allah.
Karena itu tidak heran kalau kaum muslimin mentradisikan ber-i’tikaf di masjid-masjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Amalan dilakukan secara berjamaah, dipimpinn oleh seorang kiyai, dengan diawali shalat lailatul qadar sekitar pukul 24.00, kemudian dilanjutkan dengan dzikir, membaca salawat, membaca wirid dan amalan-amalan lainnya, sambil menanti datangnya lailatul qadar.  Kemudian ditutup dengan shalat tahajud  dua kali dua rakaat, diakhiri dengan shalat hajat dua rakaat, yang selesai sekitar pukul 02.00 dinihari.  Diyakini oleh kaum muslimin bahwa pada saat-saat itu diturunkannya rahmat, ampunan, dan ijabah do’a. Kegiatan ibadah tersebut dilakukan pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Untuk dapat mengambil itibar dan menambah keyakinan tentang aqidah, marilah kita tengok peristiwa yang dialami Nabi SAW saat menerima wahyu yang pertama, sebagai risalah kenabian, yang membawa misi rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Konon, tatkala Nabi SAW menjelang usia 40 tahun, Nabi SAW suka membiasakan khalwat di gua Hira untuk menjauhkan diri dari adat  masyarakat jahiliyah di Mekah yang penuh dengan perilaku khurafat dan kemusyrikan.  Kebiasaan ini oleh masyarakat Arab disebut “tahanuth”, dilakukan oleh Nabi SAW pada setiap datangnya bulan suci Ramadhan.
Pada setiap pergantian tahun di mana Ramadhan tiba, Nabi SAW selalu kembali melakukan khalwat atau tahanuth, yaitu mengadakan tafakur, terus tafakur sampai beliau lupa diri, lupa makan, dan lupa pada kehidupan masyarakat di sekelilingnya.  Beliau melakukan itu semua untuk mencari hakikat kebenaran, karena dalam pandangan beliau masyarakat di sekelilingnya penuh dengan kepercayaan palsu dan kemusyrikan, dengan    kebiasaan hidup berfoya-foya, minum khamar, dan perilaku buruk lainnya.


Continue Reading  Clikc Here

Continue Reading...

WHAT IS THE “LAILAT Al-QADR”?

WHAT IS THE “LAILAT Al-QADR”?   
Author : Widjaja Kartadiredja


The Moslems audiences whose Allah Blesse,

The Prophet Muhammad SAW said: "If my people know all features contained by the month of Ramadhan, they would be expecting any month was Ramadhan". This shown that the month of Ramadhan is a tremendous  month from the  others.   The verse of 185 Albaqarah letter explained that Al-Qur’an was revealed in the month of Ramadhan. In another statement , in  Al-Qadr letter (QS.97) 1-3, God said : (1). "Verily, We have been down (Al Quran) on the Night of Glory', (2). "And do you know what the Night of Glory  is?" (3). "The Night of Glory is better than a thousand months".

The Night of Glory is the Laylat al-Qadr.  That is the night of glory and grandeur, since the beginning the night of Al-Qur'an's revelation was down. Worship at this night is much greater reward, and better than a good works for a thousand months.

According to the scholars, before man was created, the Qur'an was revealed in Lauhil Mahfuz . Lauhil Mahfuz was on below  the seventh heaven. The first night  of Lailat al-Qadr down to  earth  from Lauhil Mahfuz, in the Cave of Hira. Also, In other  story, Lailat Al-Qadr down when Moses came to the dialogue with God in Mount Thursina.

“Tafsir” Jalalain mention, that Ibn Abu Hatim and Al Wahidi, both of which have been narrate by Mujahid, the Prophet Muhammad  told about a man from among Children of  Bani Israel, who bore arms for a thousand months for the fight in Allah's way. The Moslems feel surprise for that, so then Allah revealed His word in the letter of Al-Qadr verses 1-3 as discribed above. The idea suggests that worship of God in the Glory  Night (that is the Laylat al-Qadr) is better than a good work for a thousand  months.

For the result, it is not  surprisingly  for  the Moslems embed  a tradition of the “i'tikaf” (stay worship in mosques) in the last 10 days of Ramadhan. The ” i’tikaf” is performed in congregation,  starting by the prayer of Laylat al-Qadr begins at about 24.00, Followed by dhikr, reading salawat, read wirid and other practices of worship, on beside waiting for Laylat al-Qadr be coming, then closed with prayer of "tahajud" twice and prayer of "intent" (demand)  which all the activities ifinished at around 02:00. The Moslems believe that this times the grace of God and forgiveness will be derived, and all the prayer will be granted.

The activity of "i'tikaf" is performed on  the odd nights of the last 10 days of  Ramadhan.

To gain a benefit and add confidence about “aqeedah”, let us look at the events of  experience  (the Prophet) Muhammad received the first revelation, the prophetic message, which carries the mission rahmatan lil alamin (mercy for all of nature).  That was said, when (the Prophet) Muhammad before the age of 40 years, he likes seclusion in the cave of Hira that used to distance themselves from the indigenous people of "jahiliyah" (ignorance) in Mecca  full of superstition and idolatry. This habit by the Arabs called "tahanuth", performed by him (Muhammad) every month of Ramadhan came.

With frequent “tahanuth”over time he got more and more perfect life, and after his soul is made perfect, he gained a perfect dream, as a bright light like the dawn in the morning, which came on the sidelines of contemplation, which, according to a story that the event occurred in a period of 6 months.


Continue reading Click Here
Continue Reading...

Minggu, 29 Juli 2012

MOSLEM AND HEALTH-2b


              DEADLY DISEASES THAT ARE BELIEVED
              AS THE TORMENT FROM GOD

In a literature that was published in the book Encyclopedia of the Qur'an and the Hadith stated miracles, in the 14th century outbreaks of new diseases that have not been known in the past, the bubonic plague. By the investigators of this diseases was given the name "black death"  which is believed the disease as a punishment and a warning from God.
The disease were endemic in Central Asia and India. The peak occurred in 1347 AD, with a claimed 75 million lives. The disease then spread to continental Europa, and the peak outbreak in Europe occurred in the 17th century, ie in 1630 AD, which killed 2/3 of the entire population of Europe. Surprisingly this plague abated at any time and then disappear.
At that time in various places in the hemisphere has occurred with various aspects of moral damages which was rampant, not least in Muslim countries. The reason is that the abundance of wealth and luxury, many music and liquor industry, which brings towards promiscuity, in which the Western world at that time held the doctrine of individual freedom.
With the rise of immoral deeds in many-places and the deviation in sexual behavior due to a life free, then the new outbreak was more widespread in Europe. With the huge number of deaths from this outbreak, the disease really is feared, and believed to be a punishment from God. That picture of the law of cause and effect caused by the moral damage in which God gave him a warning with a terrible disease.
In the last century this was a very horrible diseases has been found. In 2008, an American internet site published the results of research related to diseases caused by the behavior of sexual deviation, ie oseksual and lesbians, including in this case is the behavior of sodomy. Everything by the researchers referred to as "Luthiyin", meaning the disease of The Prophet Lut’s people as reported in the Qur'an.



Continue Reading  Clikc Here


Continue Reading...

Jumat, 27 Juli 2012

ISLAM DAN KESEHATAN-2


Penyakit Mematikan yang diyakini
Sebagai Siksa dari Allah
Disusun oleh  :   H. Widjaja Kartadiredja
 
Hadirin sidang Jum’at yang dirahmati Allah.
Dalam sebuah literatur yang dimuat dalam Buku Ensiklopedia Kemukjizatan Alqur’an dan Hadis dikemukakan, pada abad ke-14 terjadi wabah penyakit baru yang belum dikenal pada masa sebelumnya, yaitu wabah penyakit pes.  Oleh para peneliti penyakit ini diberi sebutan “black death” (kematian hitam) yang diyakini penyakit tersebut  sebagai siksa dan peringatan dari Allah. 
 Penyakit ini mewabah di kawasan  Asia Tengah dan India.  Puncaknya terjadi pada tahun 1347 Masehi, dengan memakan korban 75 juta jiwa.  Penyakit itu kemudian menyebar ke benua Erapa, dan puncaknya wabah di Eropa terjadi pada abad ke-17, tepatnya tahun 1630 Masehi,  yang memakan korban 2/3 dari seluruh penduduk Eropa.  Anehnya wabah penyakit ini sewaktu-waktu mereda dan kemudian hilang.
    Pada waktu itu di berbagai tempat di belahan bumi telah terjadi kerusakan moral dengan berbagai aspeknya yang sangat merajalela, tidak terkecuali di Negara-negara Islam.  Penyebabnya adalah karena melimpahnya harta kekayaan dan kemewahan, banyaknya industri musik dan minuman keras, yang membawa kearah pergaulan bebas, di mana dunia Barat pada waktu itu menganut ajaran kebebasan individu.  
    Dengan maraknya perbuatan maksiat di bebagai tempat dan penyimpangan perilaku seksual akibat kehidupan yang bebas, maka wabah penyakit baru itu makin meluas di Eropa.  Dengan besarnya jumlah kematian akibat  wabah ini, penyakit ini benar-benar sangat ditakuti,  dan diyakini sebagai siksa dari Allah.  Itulah gambaran tentang hukum sebab dan akibat yang ditimbulkan oleh kerusakan moral di mana Allah memberinya peringatan dengan penyakit yang sangat mengerikan. 
    Di abad terakhir ini pun penyakit yang sangat mengerikan telah ditemukan.  Pada tahun 2008,  sebuah situs internet di  Amerika mempublikasikan hasil penelitian yang berkaitan dengan penyakit akibat perilaku penyimpangan seksual, yakni oseksual dan lesbian, termasuk dalam hal ini adalah perilaku sodomi. Semuanya oleh para peneliti disebut sebagai ”Luthiyin”, maksudnya penyakit Kaum Nabi Lut a.s. yang diberitakan dalam Alqur’an.    
    Perilaku ini bukan hanya sekadar     penyimpangan seksual, melainkan dengan perilaku ini justru Allah melaknatnya dengan ditimpakannya penyakit sebagai siksa, akibat perbuatan yang menodai martabat dan fitrah manusia sebagai makhluk yang paling sempurna  yang diciptakan-Nya di alam ini.
     Kaum Muslimin umumnya sudah mengenal penyakit kaum Nabi Lut. Kaum Nabi Lut tidak mau menerima seruannya untuk bertakwa kepada Allah dan menghentian perbuatan keji yang dilakukakannya, yaitu perbuatan homosekdual,   yang  akhirnya Nabi Lut dan keluarganya  terusir dari negerinya.  Tapi kemudian Allah menyelamatkan Nabi Lut dan keluarganya, kecuali isterinya.   Maka kaum Nabi Lut, termasuk isterinya yang ditinggalkan, dibinasakan oleh Allah dengan dibalikkannya kota tempat tinggal mereka, lalu dihujani dengan hujan batu yang terbakar.
    Dalam Surat Asy-Syu’araa’ (QS.26) ayat 165-173, diceritakan dialog antarta Nabi Lut dengan kaumnya fasiq itu sebagai berikut : 




Continue Reading...

ISLAM DAN KESEHATAN-4


Mensyukuri Nikmat Sehat
Disusun oleh :  H. Widjaja Kartadiredja
                
Hadirin sidang Jum’at yang dirahmati Allah,
Manusia diperintahkan Allah untuk bersyukur atas segala nikmat yang dianugrahkan Allah kepada kita.  Dalam Surat Al-Baqarah (QS.2) ayat 152 Allah berfirman :

Artinya :  Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS.2 : 152).
Lalu dalam Surat Ibrahim (QS.14) ayat 7 Allah memaklumkan :

Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscata Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,


Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat" (QS.14 : 7).

Dengan dua contoh ayat ini jelas kita wajib mensyukuri segala nikmat yang dianugrahkan Allah kepada kita.  Kalau bersyukur akan ditambah nikmat, dan kalau tidak bersyukur, diancam dengan azab yang sangat berat.
Nikmat Allah itu tiada terhitung banyaknya, termasuk salah satunya yang setiap saat  dirasakan, adalah nikmat sehat.  Justru nikmat sehat ini sering dilupakan tatkala kita tengah berada dalam keadaan sehat. Padahal sehat itu karunia yang tiada tara nilainya.  Jika seseorang tengah dalam kondisi sakit yang sangat kritis, kesehatan tak ubahnya ibarat sebuah komoditi yang tak bisa diganti dengan benda apapun atau ditukar dengan uang seberapa pun banyaknya .
 Karena itu pada kesempatan khutbab ini, mari kita bersama-sama menyimak tentang bahasan pentingnya mensyukuri nikmat sehat. Tujuannya, disamping untuk menyempurnakan kewajiban mensyukuri nikmat Allah, juga agar hati kita termotivasi untuk senantiasa memelihara kesehatan.
Tentang pentingnya kesehatan, Rasulullah Saw menganjurkan untuk memohon ampunan dan kesehatan, sebagaimana sabdanya :


Continue Reading...

ISLAM DAN KESEHATAN-3



Bahayanya Rokok bagi Kesehatan
 Disusun oleh  :   H. Widjaja Kartadiredja
          Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah,
Dalam Surat Albaqarah (QA. 2) ayat 168 Allah berfirman :
 รข
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa   yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. 2 : 168).
Dengan ayat ini Allah memerintahkan kepada manusia untuk memakan makanan yang halal dan baik (halaalan toyyiban).  Artinya tidak memakan yang diharamkan dan yang membawa mudarat pada dirinya, sebagai  rizki dari bumi yang dikaruniakan Allah untuk manusia.
Dalam kaitan dengan ayat ini, kami ingin memaparkan tentang kebiasaan mengkonsumsi rokok dipandang dari segi mudaratnya, dimana rokok yang dikonsumsi oleh kebanyakan orang tidak masuk dalam kategori halaalan toyyiban.  Yang akan kami paparkan di sini adalah di luar status hukumnya (haram atau makruh) yang menjadi kewajiban lembaga MUI untuk mengeluarkan fatwanya, yang saat ini justru masalahnya menjadi polemik.
Rokok merupakan barang yang dikonsumsi oleh sebagian orang dari kalangan bangsa mana pun, yang tentunya di sepanjang zaman, sejak zaman nenek moyang hingga zanab di abad modern sekarang ini. Umumnya orang  mengenal bahayanya rokok baru sebatas pada adanya nikotin (racun) dalam rokok yang masih dianggap belum banyak membahayakan kesehatan.  Tapi di abad teknologi sekarang ini, berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah, ternyata dalam rokok terkandung ribuan bahan kimiawi yang sangat berbahaya bagi kesehatam, seolah-olah racun yang dibawa oleh asap rokok ibarat tengah menggiring suatu kematian secara pelan-pelan.
Kami ingin memaparkan masalah bahayanya rokok bagi kesehatan, dengan mengambil masukan dari  ceramah Ustadz Muhammad Nur Muttaqien, yang disampaikan pada saat  penyelemnggaraan Pameran Huku-buku Islami tanggal 13 Mei 2010 yang lalu di Gedung Landmark Jl. Braga Badung, yang sumber materinya  ia peroleh dari berbagai situs internet tentang bahayanya rokok.  Maka lewat mimbar Jum’at ini kami sampaikan pesan misi yang terkandung dalam ceramah tersebut. Tujuannya untuk dipakai bahan mawas diri oleh kaum muslimin, bahwa betapa besarnya bahaya rokok bagi kesehatan manusia.
Ada beberapa poin yang sangat perlu  diketahui oleh kaum muslimin tentang bahayanya rokok, yaitu :
1)  Rokok sama dengan narkoba.   Rokok adalah termasuk dalam kategori narkoba.  Di tengah maraknya anti narkoba di masyarakat, ternyata tidak banyak orang yang menyadari bahwa didalam rokok terkandung unsur narkoba.   Dalam barang yang disebut narkoba, terdapat tiga kelompok zat aktif, yaitu narkoba, psikotropika, dan zat aktif lainnya.  Rokok bersama alkohol termasuk kelompok yang terakhir.  Nikotin yang merupakan salah satu komponen dari rokok, merupakan zat psikotropika buatan.. Karena itu rokok mempunyai sifat-sifat utama layaknya narkoba, yaitu habitasi, adiksi, dan toleransi.  Habitasi adalah perasaan rindu yang melintas dalam fikiran untuk terus mengkonsumsi zat tersebut.  Adiksi merupakan dorongan kompulsif untuk menggunakan suatu zat disertai tanda-tanda ketergantungan yang bersifat psikologis dan fisiologis.  Ketergantungan psikologis, seperti untuk menghadapi stress.  Sedangkan ketergantungan fisiologis artinya perubahan fungsional tubuh sedemikian rupa akibat pengaruh dari suatu zat.  Toleransi terkait dengan bertambahnya waktu pemakaian yang memerlukan bertambahnya dosis pemakaian untuk mencapai efek kenikmatan yang sama.    Toleransi inilah yang membuat seorang perokok (dan pemakai narkoba) terus menambah jumlah dosisnya dari waktu ke waktu, hingga akhirnya membuat binasa dirinya. 


Baca Selanjutnya........






Continue Reading...

ISLAM DAN KESEHATAN-1


Ajaran Syariat Islam sangat Mengedepankan
Pentingnya Nilai-nilai Kesehatan
Disusun oleh  :   H. Widjaja Kartadiredja
  
Hadirin sidang Jum’at rahiimakumullah,
Krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia pada tahun 1980/90-an membuat bangsa kita hampir tak pernah keluar dari berbagai permasalahan bangsa hingga sekarang.  Salah satu dampaknya yang dirasakan ialah membuat sebagian besar rakyat Indonesia masih jauh dari hidup sehat.
Dalam tahun 1998 Indonesia pernah mencanangkan misi baru di bidang kesehatan, yang   dinyatakan dengan motto :  “Indonesia Sehat 2010”.  Tapi nyatanya,  hingga tahun 2010 lewat kondisi kesehatan rakyat Indosnesia masih belum banyak beranjak dari kondisi semula,  karena problematika bangsa yang terus silih berganti menerpa kehidupan bangsa kita.
Dalam kondisi yang demikian, maka bangsa kita harus mengambil langkah kreatif,  sebab tentunya masih ada upaya yang bisa ditempuh dalam memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat.  Salah satu upaya diantaranya melalui pendekatan perilaku dan budaya untuk menanamkan pemahaman masyarakat tentang kesehatan, disamping upaya pemerintah untuk menekan biaya kesehatan yang bisa terjangkau oaleh kalangan masyarakat bawah.  
Undang-undang No. 36 yahun 2009 tentang Kesehatan, menegaskan pentingnya peran serta masyarakat, baik perorangan maupun terorganisasi, dalam mempercepat proses terwujudnya tingkat kesehatan masyarakat sebagai bentuk partisipasi.
Sesungguhnya kaum Muslimin sebagai  mayoritas penduduk di negeri ini,  sangat potensial untuk dibangkitkan kesadaran atau bahkan peran-sertanya dalam pembangunan kesehatan, yang diawali dengan penanaman pemahaman, bahwa ajaran syariat Islam sendiri sangat mengedepankan nilai-nilai kesehatan, baik yang tekait langsung dengan masakah ibadah maupun muamalah dalam kehidupan sehari-hari kaum muslimin. 
Karena itu untuk meyakini betapa sempurnanya ajaran syariat Islam terkait dengan masalah kesehatan, mari kita lihat beberapa contoh firman Allah dalam Alqur’an  dan Hadits-hadits Nabi Saw yang mengisyaraktan tentang kesehatan, yaitu :  
Pertama :   Tentang  kebersihan terkait dengan wudhu.   Firman Allah dalam Surat Al-Maidah (QS.5) ayat 6

Continue Reading...

Sabtu, 15 Agustus 2009

PERJALANAN HAJI (Bhs Sunda)

coner sunda

SYNOPSIS
Alhamdulillah, jisim kuring salaku Penulis, kalayan pitulung Alloh SWT parantos ngadamel ieu seratan anu nyaritakeun pangalaman unik jisim kuring munggah haji ka Baitulloh dina taun 1995. Tujuanna teu aya sanes didadasaran ku niat ibadah, pamugi eta pangalaman aya mangpaatna ka anu maos, nya eta pieunteungan dina ngamangpaatkeun waktos ibadah di tanah suci.
Sanaos carita dina ieu seratan pangalaman taun 1995, nanging eusina bakal tetep “up to date” (tumetep anyar) kanggo diaos ku para calon jamaah haji dina saban-saban musim haji, margi pengalaman anu dicaritakeun nyekel papagon rukun haji anu nganggo alur perjalanan haji tamattu. Dina ieu seratan dicaritakeun raratan perjalanan ti kawit miang ka tanah suci dugi ka mulang deui ka tanah air.
Ieu seratan dipedar di Website anu mangrupa e-book. Website : www.widiakertapranata.com E-mail : widiakertapranata@yahoo.co.id E-mail alternatif : wijayakartadi@yahoo.co.id Peryogi kauninga, sateu-acanna sabagian tina eta seratan (Bagian Kahiji, Kadua, sareng Katilu) kantos dipedar dina rubrik Gema Haji Harian Pikiran Rakyat kalayan “direlies” di Website (internet) dina sasih Januari 2004, anu judulna : Tips Ajaib bisa Salat di Raudhah” sareng “Telaten Beribadah di Masjidil Haram”.
Kacida pentinmgnya ieu seratan di aos ku para calon jamaah haji sareng jamaah umrah anu eusina munel pisan keur “berbagi pengalaman” dina ngamangpaatkleun waktu ibadah di tanah suci. Pangalaman saha bae di tanah suci anu didadasaran ku kasungguhan milampah ibadah kalayan niat ihlas karana Alloh, insya Alloh bakal ninggalkeun tapak kenangan anu endah samulihna ti tanah suci, anu baris ngendag-ngendag manah sangkan daek napakuran perjalanan hirup anu salawasna kedah madepkeun diri ka Alloh.


DAFTAR ISI
• Daftar Isi (kaca 2-3).
• Bubuka (kaca 5-6).
Bagian Kahiji (kaca 7-9) : Miang ka Tanah Suci; dongkap di Madinah aya anggota kelompok anu teu damang.
Bagian Kadua 10-18) : Masalah AC di kamar hotel; Salat di Raudhah; Kumaha carana kenging tempat salat di Raudhah; Sakantenan Ziarah ka Makam Nabi SAW.
Bagian Katilu (kaca 19-31) : Ninggalkeun Madinah (keur ngajalankeun rukun umrah); Sadongkapna di Makkah Ta’jub ku Kaagungan Masjidil Haram; Milampah Tawaf, Sa’i jeung Tahalul; Situasi Jamaah di Masjidil Haram; Ngamangpaatkeun Waktu Ibadah di Masjidil Haram; Tawaf; Hayang Nyium Hajar Aswad?.
Bagian Kaopat (kaca 32-39) : Ihwal Wukuf di Arafah; Miang ti Makkah ngajugjug Arafah; Ninggalkeun Arafah Ngajugjug Tanah Mina; Maledog Jumrah di Mina; Balik deui ka Makkah (keur namatkeun hanca milampah rukun haji); Tetep Milampah Ibadah di Masjidil Haram (dugi ka Mulang ka tanah Air); Pamungkas.
Bagian Kalima (Kontemplasi) (kaca 40-52) : Ayat-ayat kauniyah; Isarat Alqur’an; Topan di Jaman Nabi Nuh; Naha Enya Eta teh Planet Muntaha?; Ngabayangkeun Legana Wewengkon Tata Surya jeung Galaksi; Ma’na Tawaf Ngurilingan Ka’bah; Dina Ritual Tawaf Kakandung Isarat Ilmiah. 

Catatan :
Sebagian dari penjualan ebook bidang Agama (utem 2,3,4), akan di-infaq-kan kepada yatim piatu dan kaum duafa dari atas nama para pembeli ebook, a.l. akan disalurkan lewat Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Desa “Purwadaksina” (alamat : Kantor Pusat Jl. Titiran No. 16 Bandung, dan Kantor Cabang Jl. H. Abdullah No. 2 Desa Cisontrol, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Indonesia). Untuk cross check melalui email : widiakertapranata@yahoo.co.id 
Continue Reading...
 

www.widiakertapranata.com Copyright © 2009 Girlymagz is Designed by Bie Girl Vector by Ipietoon