Sabtu, 01 Desember 2012

PILGUB JABAR PERLU TAMPILKAN PEMIMPIN KONTEMPORER SEPERTI SOSOK JOKOWI


Deskripsi kepemimpinan dan hasil analisis penerapannya dalam proses penyelenggaraan Pilkada (2) :

 PILGUB JABAR PERLU TAMPILKAN PEMIMPIN KONTEMPORER
SEPERTI  SOSOK JOKOWI

Penulis :  Widjaja Kartadiredja/letkol Purnawirawan 


Jokowi Sosok Pemimpin Kontemporer. 

Seorang budayawan, Jakob Sumardjo,
  menulis tentang kepemimpinan Joko Widodo dalam Pikiran Rakyat terbitan 21 November 2012 berjudul  “Paradoks Jokowi”.   Di awal tulisannya ia katakan, Jokowi sedang memainkan peran paradoks lokal.  Paradoks bagi dunia modern ditolak, tetapi bagi kearifan lokal justru kebenaran ultima. Dia terpilih sebagai Gubernur Jakarta sudah merupakan paradoks.  Ia orang pedalaman yang ingin memimpin kota metropolitan.  Cara berpikir modern langsung menolaknya karena paradoks, tidak masuk akal dan akan gagal.  Tapi justru di luar dugaan manusia paradoks seperti ini yang dipilih rakyat.

Isi bahasan tidak bisa dilihat secara hitam putih atau lebih tepatnya dilihat dari segi pro dan kontra terhadap figur kepemimpinan Jokowi.  Namun isi  tulisan sangat tepat untuk digunakan bahan analisis, untuk melihat kepemimpinan seseorang secara komprehensif dipandang dari berbagai aspek yang bersifat kontradiktif dan berlawanan.  

Di akhir tulisannya ia katakan bahwa Jakarta itu adalah micro-Indonesia.  Memerintah Jakarta sama rumitnya dengan memerintah Indonesia.  Ini menunjukkan bahwa penulisnya melihat betapa berat tugas Jokowi sebagai Gubernur di kota mentropolitan seperti Jakarta.  Hingga akhirnya ia berharap bahwa fenomena paradoks Jokowi, mudah-mudahan membawa angin segar dalam dunia kepemimpinan di Indonesia. 

Sebenarnya jika ingin tahu tentang pro dan kontra terhadap kepemimpinan Jokowi, dapat melihat  komentar-komentar pemirsa dalam tayangan di situs internet antara lain lewat  twitter atau yahoo messenger.  Sangat jarang pemerhati yang menyatakan tidak antusias pada sosok Jokowi, kebanyakan pemerhati sangat puas dengan penampilan Jokowi  pada masa kampanye hingga terpilihnya menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan terhadap aktivitasnya setelah dilantik sebagai Gubernur.

Penulis fokus menyimak sosok Jokowi  baru sejak pelaksanaan Pilgub DKI Jakarta tahap dua sampai pada pelantikan beliau sebagai Gubernur dan aktivitasnya sesudah beliau  menjadi orang nomor 1 di DKI Jakarta, yaitu lewat berita-berita atau tayangan-tayangan di situs internet.   

Kalau pun ada sikap yang kontra terhadap figur   kepemimpinan Jokowi, adalah hal yang wajar.  Karena penilaian seseorang terhadap suatu objek, dalam hal ini terhadap sosok kepemimpinan Jokowi, tidak terlepas dari faktor subjektivitas.  Karena itu dipandang dari fenomena yang ada dalam kondisi bangsa saat ini, maka figur kepemimpinan Jokowi akan tetap eksis  dipandang dari sudut kontemporer dalam dunia kepemimpinan di Indonesia.    

Apa yang dilakukan Jokowi, sebagai contoh dengan blasak-blusuknya ke kampung-kampung kumuh dan terminal-terminal kotor di kota metropolitan di jaman teknologi canggih dan budaya modern,  tidak akan mengurangi nilai kepemimpinannya, karena hal itu dilakukannya dalam rangka "pemantauan klim kerja,  lingkungan,  dan masyarakat" dalam posisi beliau sebagai pejabat baru, agar nantinya mampu melakukan tindakan kepemimpinan yang tepat secara situasional.  Kalau pun cara kerja seperti ini bukan karena alasan pejabat baru, akan tetapi dilakukan karena telah menjadi karakternya, justru itulah pemimpin yang  dibutuhkan oleh masyarakat saat ini. 

Giliran Penyelenggaraan Pilgub Jabar 2013. 

Usai Pilgub di DKI Jakarta dengan kemenangan pasangan Jokowi-Ahok seperti terurai di atas, kini giliran Jawa Barat menghadapi penyelenggaraan  Pilgub 2013. Mudah-mudahan seperti DKI Jakarta, Pilkada Jabar pun  dapat meraih kemenangan dengan didapatkannya calon pemimpin yang tepat di Tatar Sunda, setidaknya kualifikasinya sekelas Jokowi, atau bahkan di atas Jokowi.  Lima pasangan kontestan telah ditetapkan oleh KPU yang kini para pasangan tengah menyelesaikan persyaratan administrasi termasuk test kesehatan, untuk kemudian menghadapi pertarungan untuk merebut kemenangan dalam Pilgub Jabar 2013.  

Bagaimana sikap masyarakat pemilih selaku pemegang hak pilih dalam pelaksanaan Pilgub yang pencblosannya akan dilakukan 24 Februari 2013?  Penulis bukan dari kalangan partai ataupun kader. Penulis adalah seorang warga masyarakat yang terpanggil untuk berpartisipasi lewat sumbang-saran pemikiran, demi suksesnya rekrutmen calon pemimpimpin di Provinsi Jawa Barat. Jawaban pertanyaan tadi adalah “masyarakat tidak pasif dalam menghadapai Pilkada ini”.  Masyarakat harus punya “niat akbar” untuk suksesnya Pilkada, yaitu  “dapat memilih pemimpin yang benar-benar mampu meneruskan dan  melaksanakan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat”. Tidak asal pilih, tidak terpengaruh oleh  iming-iming, umbar janji, apalagi oleh kecurangan lewat praktek politik uang.  Semua itu  merupakan sebuah kecurangan dalam proses demokrasi untuk mewujudkan pembangunan demi kesejahteraan rakyat.

Tanpa bermaksud mengkultuskan seseorang, tapi patut kiranya dipakai sebagai acuan dalam memilih  calon pemimpin, maka tepatlah kiranya jika Jokowi yang dianggap sebagai pemimpin kontemporer saat ini  dijadikan acuan atau conto figur yang diinginkan oleh masyarakat Jawa Barat dalam Pilkada.

Disimpulkan oleh penulis adanya tiga kriteria yang minimal dicerminkan oleh sosok Jokowi dalam Pilgub DKI Jakarta, yaitu dari segi karakter (integritas kepribadian), kepemimpinan, dan keterbukaan.  Ketiganya bisa dijabarkan sebagai berikut : 

1)  Dari segi karakter (integritas kepribadian) figur tersebut punya ciri khas :  sederhana, tidak arogan,  pro rakyat, jujur dan  jauh dari sifat munafik ; 
2)  Dari segi kepemimpinan :  Figur tersebut menerapkan kepemimpinan lewat wibawa atau disebut “daya pengaruh” dan bukan dengan kekuatan wewenang atau kekuasaan.  Artinya ia adalah pemimpin yang tidak otoriter, bijaksana dan tegas. 
3)  Dari segi keterbukaan, atau lebih tepatnya keterbukaan manajemen :  adanya komunikasi dua arah antara birokrat dan masyarakat, karena peran utama aparat adalah dalam bidang pelayanan masyarakat.

Disamping itu dari sudut agama, ahlak dan moral, adalah  :  iman dan takwa, takut pada hukum Tuhan, tidak terindikasi kasus korupsi, dan punya semangat pengabdian untuk kepentingan bangsa.

Barangkali kriteria tersebut diatas bisa di pakai sebagai acuan bagi masyarakat pemilih dalam membuat ancang-ancang dalam menetapkan calon pemimpin (Cagub-Cawagub) jauh hari sebelum pelaksanaan pencoblosan, 24 Februari 2013.

Jawa Barat yang sering disebut Tatar Sunda atau Tanah Pasundan merupakan aset di Nusantara yang memiliki potensi yang tiada tara, sehingga dari segi kemakmuran dan tata pemerintahan di Tatar Sunda, nenek moyang penduduk pribumi menyebutnya negri yang  “gemeh ripah loh jinawi, tata tengtrem kerta raharja”, yang artinya   tanah yang subur makmur dan pemerintahan yang aman tentram dan sejahtera.

Masyarakat akan sangat kecewa jika Pilkada Jabar 2013 tidak berhasil memilih pemimpin yang mampu mempertahankan dan memberdayakan potensi yang ada di Tatar  Sunda termasuk potensi dari segi budaya, aneka adat istiadat, dan ciri khas keindahan lainnya yang masih terpendam dan belum digali di masyarakat Tatar Sunda. 
           
Widjaja Kartadiredja, Penulis Ebook Kinerja di blogspot  www.widiakertapranata.com, tinggal di Kota  Cimahi, Jawa Barat.

Catatan  
Tulisan ini walau haya berupa buah pikiran dari seorang warga masyarakat, seyogianya dapat dibaca secara luas oleh kalangan publik, baik dalam hal keterkaitan dengan Pemilukada di tingkat Provinsi atau pun di tingkat Kabupaten dan Kota, di wilayah pemilihan mana saja di bawah NKRI.***   


Continue Click Here
Continue Reading...

Sabtu, 17 November 2012

JOKOWI, AWALI PARADIGMA BARU DALAM KAMPANYE PILKADA LEWAT KEPEMIMPINANNYA



Deskripsi kepemimpinan dan hasil analisis penerapannya dalam proses penyelenggaraan Pilkada (1) :    
 
JOKOWI, AWALI PARADIGMA BARU
DALAM KAMPANYE PILKADA LEWAT FIGUR KEPEMIMPINANNYA

Penulis : 
Widjaja Kartadiredja/Letkol Purnawirawan           

Sumber :  Berdasarkan pengamatan dalam pelaksanaan Pilgub DKI Jakarta September 2012. 

Dalam menghadapi Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur di Provinsi Jawa Barat 2013 (Pilkada Jabar 2013) tepatnya 24 Februari 2013, penulis selaku warga masyarakat menyajikan sebuah pemikiran terkait harapan  untuk suksesnya Pilkada di Jawa Barat yang oleh penduduk pribumi   sering disebut  Tatar Sunda atau Tanah Pasundan.  Pemikiran ini pun tentunya akan bermanfaat bagi wilayah-wilayah pemilihan lainnya di bawah NKRI, dimana pemikiran ini  dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk upaya perbaikan penyelenggaraan Pilkada di wilayahnya.   

Suatu kenyataan,  pada setiap pelaksanaan Pilkada di wilayah mana pun tidak terlepas dari hadirnya ketidak-puasan di pihak masyarakat.  Hal ini terjadi antara lain karena adanya indikasi palanggaran yang tidak bisa dibuktikan, contohnya yang terkait dengan praktek politik uang.  Pelanggaran ini bisa terus berpeluang.  Alasannya, karena di satu sisi adanya kelemahan masyarakat selaku pemegang hak pilih, terutama pada kalangan masyarakat bawah yang kondisi sosial ekonominya sangat  lemah, yang data populasinya 40% berada di bawah garis kemiskinan. Mereka bisa dikatakan tidak paham politik dan bisa jadi mereka tidak terjamah oleh sosialisasi Pemilukada (ataupun Pemilu Nasional) karena letak geografis yang jauh di pelosok-pelosok pedesaan.  Kondisi seperti ini membuat mereka mudah terpengaruh oleh iming-iming, umbar janji, atau semacam kecurangan lainnya karena adanya tekanan dari kontestan tertentu demi memperoleh raihan suara sebanyak-banyaknya.

Dalam Pasal 2 Amandeman Undang-Undang Dasar 1945  disebutkan bahwa “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar” Berdasarkan bunyi pasal Undang-Undang Dasar ini, maka rakyat selaku pemegang kedaulatan yang pengejawantahannya diwujudkan dalam bentuk hak pilih atau hak suara, harusnya diberdayakan dalam Pemilu/Pilkada, sehingga rakyat benar-benar dapat memberikan hak pilihnya atau hak suaranya dalam penyelenggraan proses demokrasi selaku pemegang kedaulatan, dan tidak dibiarkan bersifat buta politik seperti keadaan sekarang.

Di  sisi lain, terkait persaingan antar kontestan untuk meraihan suara terbanyak, pelaksanaan Pemilu/Pilkada bisa bertendesi kearah paradigma yang membenarkan “siapa yang kuat biaya  untuk kampanye itulah yang punya andalan untuk menang”. Paradigma ini membawa dampak ketidak-adilan di pihak  masyarakat.  Keadaan seperti ini  “harus dirubah dengan pola pandang yang  lebih berlandaskan pada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan” ketimbang hanya untuk raihan suara, bahwa setiap warga negara harus tulus sepenuh hati mendukung suksesnya Pemilu/Pilkada dalam arti “dapat menghadirkan sosok pemimpin yang benar-benar memenuhi tuntutan masyarakat”, yaitu yang mampu mengadakan perubahan pembangunan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat, dan nantinya dalam pemerintahan terbebas dari munculnya kembali pemimpin yang nyata-nyata track recordnya “tidak bersih”  antara lain karena terlibat atau terindikasi kasus korupsi.      

Seperti apa realisasi dari paradigma baru dalam kampanye Pilkada dimaksud, bersyukur contoh kearah itu sudah ada dan bisa diadopsi, yaitu  dari pengalaman yang dilakukan oleh salah satu pasangan dalam  Pilkada di DKI Jakarta belum lama ini.  Seperti  yang telah diketahui umum lewat media cetak ataupun elektronik,  bahwa kemenangan pasangan Jokowi-Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) dalam Pilkada tersebut bukannya tanpa sebab, melainkan ada paradigma baru yang jadi penyebabnya. 
Dari cerminan yang diperankan oleh pasangan Jokowi-Ahok dalam Pilkada tersebut, baik disaat “persaingan dalam kampanye maupun tindakan yang dilakukan keduanya setelah dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur”, sekurang-kurangnya dapat kita lihat khusus dalam diri Jokowi sebagai Calon Gubernur/Gubernur, ada tiga hal yang menonjol, yaitu gambaran yang mencerminkan integritas kepribadian, kepemimpinan, dan keterbukaan. Tanpa memiliki tiga ciri  khas tersebut orang tidak akan percaya bahwa ia akan mampu mengadakan perubahan pembangunan dalam periode pemerintahannya.

Untuk mengetahui secara detail sosok Jokowi dengan tiga ciri khas tersebut, kita jabarkan ketiga ciri tersebut sebagai berikut :

Dipandang dari sudut kepribadian, walau hanya dengan pengamatan dalam tempo  yang relatif singkat,  Jokowi sudah bisa dipersonifikasi sebagai pemimpin sederhana yang mumpuni.  Maksudnya, Jokowi punya sifat sederhana, lembut hati, tidak  arogan, dan lebih mengutamakan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi, serta lebih prioritaskan kewajiban dari pada hak.  Dan tentunya yang paling  dibanggakan terutama oleh warga Jakarta, ia punya kepedulian pada kalangan masyarakat bawah yang jarang terdapat pada pemimpin lain pada umumnya.  

Dari segi figur kepemimpinan, tampak jelas Jokowi menerapkan kepemimpinan tanpa menonjolkan kekuatan “wewenang”  namun lebih mengandalkan kekuatan “wibawa” atau “daya pengaruh”.  Karenanya perilaku kepemimpinan beliau lebih condong pada penggunaan “internal power” ketimbang penggunaan “external power”. Internal power adalah kekuatan yang bersumber dari dalam dirinya, diantaranya berupa kepribadian yang membuat dirinya disukai, disenangi, dan dipatuhi oleh pihak bawahan atau pun oleh para pengikutnya. Sedangkan “external power” adalah wewenang atau legalitas formal yang diberikan organisasi untuk menjalankan kepemimpinan.  Dengan demikian dapat dideskripsikan bahwa hakekat kepemimpinan adalah daya pengaruh dan bukan wewenang atau kekuasaan  belaka.   Inilah barangkali yang secara terori disebut sebagai seni kerhasilan dalam memimpin.

Tentang keterbukaan, atau lebih tepat disebut keterbukaan manajemen,  bisa diartikan berupa kemampuan untuk mengakomodir aspirasi masyarakat dalam pembangunan dan sebaliknya kesediaan birokrasi untuk berkomunikasi dua arah dengan masyarakat. Untuk bahan koreksi, bahwa di kebanyakan  institusi/lembaga di kalangan pemerintahan pada umumnya, mungkin benar komentar orang, kondisi selama ini menunjukkan betapa sulitnya orang menembus birokrasi.  Inilah sebuah kelemahan manajemen di institusi/lembaga  tersebut yang akhirnya secara lembaga hal itu manjadi tanggung jawab pucuk pimpinan selaku pembuat kebijakan. ∏

Penulis Widjaja Kartadiredja, Penyusun Ebook Kinerja di blogspot www.widiakaertapranata.com, tinggal di Kota Cimahi, Jawa Barat, Indonesia.

Catatan :  Tulisan ini walau haya berupa buah pikiran dari seorang warga masyarakat, seyogianya dapat dibaca secara luas oleh kalangan publik, baik dalam hal keterkaitan dengan Pemilukada di tingkat Provinsi atau pun di tingkat Kabupaten dan Kota, di wilayah pemilihan mana saja di bawah NKRI.***   



Continue Reading...

Sabtu, 11 Agustus 2012

I’TIKAF DI AKHIR RAMADHAN MENYAMBUT DATANGNYA LAILATUL QADAR


I’TIKAF DI AKHIR RAMADHAN MENYAMBUT 
DATANGNYA LAILATUL QADAR
selasa, 07 juli 2015
Penulis :  Widjaja Kartadiredja

Hadirin sidang jum’at rahimakumullah,
Nabi Saw bersabda: “Seandainya umatku mengetahui (semua keistimewaan) yang dikandung oleh bulan Ramadhan, niscaya mereka mengharapkan semua bulan menjadi Ramadhan”.   Ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang memiliki keitimewaan luar biasa dibading dengan bulan-bulan lainnya.  
Dalam Surat Albaqarah ayat 185 dijelaskan bahwa Alqur’an diturunkan pada bulan Ramadhan.  Dalam ayat lain, yakni dalam Surat Al Qadr (QS.97) ayat 1-3 Allah berfirman :
Artinya : (1). “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”;   (2). “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”    (3).  “Malam ke-mu-liaan itu lebih baik dari seribu bulan”. (QS. 97 : 1-3)
Malam kemuliaan itulah yang dimaksud dengan lailatul Qadr yaitu, suatu malam yang penuh kemuliaan dan keagungan, karena pada malam itu permulaan diturunkannya Al Quran. Beribadah pada malam itu pahalanya jauh lebih besar dan lebih baik dari pada beribadah selama seribu bulan.
Menurut penuturan kalangan ulama, sebelum manusia diciptakan, Alqur’an telah diturunkan ke Lauhil Mahfuzh (Lauhil Mahfuzh adanya di bawah langit ketujuh).  Malam qadar yang pertama yang menjumpai Nabi SAW adalah tatkala turunnya wahyu yang pertama (dari Lauhil Mahfuzh) ke bumi di Gua Hira.  Dalam keterangn lain diceritakan, malam qadar pun turun saat Nabi Musa berdialog dengan Tuhan di Bukit Thursina.
Dalam Tafsir Jalalain disebutkan, bahwa Ibnu Abu Hatim dan  Al Wahidi, keduanya telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Mujahid yang menceritakan, bahwa Rasulullah SAW pernah menceritakan seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil, yang menyandang senjata selama  seribu bulan untuk berjuang di jalan Allah.  Kaum muslimin merasa ta’jub atas hal tersebut, maka kemudian Allah menurunkan firman-Nya dalam Surat Al-Qadr ayat 1-3 seperti disebutkan di atas.  Maksudnya Allah menunjukkan bahwa beribadah pada malam kemuliaan itu (malam lailatul qadar) jauh lebih baik dan lebih besar pahalanya dari pada pahala seorang laki-laki yang menyandang senjata selama seribu bulan di jalan Allah.
Karena itu tidak heran kalau kaum muslimin mentradisikan ber-i’tikaf di masjid-masjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Amalan dilakukan secara berjamaah, dipimpinn oleh seorang kiyai, dengan diawali shalat lailatul qadar sekitar pukul 24.00, kemudian dilanjutkan dengan dzikir, membaca salawat, membaca wirid dan amalan-amalan lainnya, sambil menanti datangnya lailatul qadar.  Kemudian ditutup dengan shalat tahajud  dua kali dua rakaat, diakhiri dengan shalat hajat dua rakaat, yang selesai sekitar pukul 02.00 dinihari.  Diyakini oleh kaum muslimin bahwa pada saat-saat itu diturunkannya rahmat, ampunan, dan ijabah do’a. Kegiatan ibadah tersebut dilakukan pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Untuk dapat mengambil itibar dan menambah keyakinan tentang aqidah, marilah kita tengok peristiwa yang dialami Nabi SAW saat menerima wahyu yang pertama, sebagai risalah kenabian, yang membawa misi rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Konon, tatkala Nabi SAW menjelang usia 40 tahun, Nabi SAW suka membiasakan khalwat di gua Hira untuk menjauhkan diri dari adat  masyarakat jahiliyah di Mekah yang penuh dengan perilaku khurafat dan kemusyrikan.  Kebiasaan ini oleh masyarakat Arab disebut “tahanuth”, dilakukan oleh Nabi SAW pada setiap datangnya bulan suci Ramadhan.
Pada setiap pergantian tahun di mana Ramadhan tiba, Nabi SAW selalu kembali melakukan khalwat atau tahanuth, yaitu mengadakan tafakur, terus tafakur sampai beliau lupa diri, lupa makan, dan lupa pada kehidupan masyarakat di sekelilingnya.  Beliau melakukan itu semua untuk mencari hakikat kebenaran, karena dalam pandangan beliau masyarakat di sekelilingnya penuh dengan kepercayaan palsu dan kemusyrikan, dengan    kebiasaan hidup berfoya-foya, minum khamar, dan perilaku buruk lainnya.


Continue Reading  Clikc Here

Continue Reading...

WHAT IS THE “LAILAT Al-QADR”?

WHAT IS THE “LAILAT Al-QADR”?   
Author : Widjaja Kartadiredja


The Moslems audiences whose Allah Blesse,

The Prophet Muhammad SAW said: "If my people know all features contained by the month of Ramadhan, they would be expecting any month was Ramadhan". This shown that the month of Ramadhan is a tremendous  month from the  others.   The verse of 185 Albaqarah letter explained that Al-Qur’an was revealed in the month of Ramadhan. In another statement , in  Al-Qadr letter (QS.97) 1-3, God said : (1). "Verily, We have been down (Al Quran) on the Night of Glory', (2). "And do you know what the Night of Glory  is?" (3). "The Night of Glory is better than a thousand months".

The Night of Glory is the Laylat al-Qadr.  That is the night of glory and grandeur, since the beginning the night of Al-Qur'an's revelation was down. Worship at this night is much greater reward, and better than a good works for a thousand months.

According to the scholars, before man was created, the Qur'an was revealed in Lauhil Mahfuz . Lauhil Mahfuz was on below  the seventh heaven. The first night  of Lailat al-Qadr down to  earth  from Lauhil Mahfuz, in the Cave of Hira. Also, In other  story, Lailat Al-Qadr down when Moses came to the dialogue with God in Mount Thursina.

“Tafsir” Jalalain mention, that Ibn Abu Hatim and Al Wahidi, both of which have been narrate by Mujahid, the Prophet Muhammad  told about a man from among Children of  Bani Israel, who bore arms for a thousand months for the fight in Allah's way. The Moslems feel surprise for that, so then Allah revealed His word in the letter of Al-Qadr verses 1-3 as discribed above. The idea suggests that worship of God in the Glory  Night (that is the Laylat al-Qadr) is better than a good work for a thousand  months.

For the result, it is not  surprisingly  for  the Moslems embed  a tradition of the “i'tikaf” (stay worship in mosques) in the last 10 days of Ramadhan. The ” i’tikaf” is performed in congregation,  starting by the prayer of Laylat al-Qadr begins at about 24.00, Followed by dhikr, reading salawat, read wirid and other practices of worship, on beside waiting for Laylat al-Qadr be coming, then closed with prayer of "tahajud" twice and prayer of "intent" (demand)  which all the activities ifinished at around 02:00. The Moslems believe that this times the grace of God and forgiveness will be derived, and all the prayer will be granted.

The activity of "i'tikaf" is performed on  the odd nights of the last 10 days of  Ramadhan.

To gain a benefit and add confidence about “aqeedah”, let us look at the events of  experience  (the Prophet) Muhammad received the first revelation, the prophetic message, which carries the mission rahmatan lil alamin (mercy for all of nature).  That was said, when (the Prophet) Muhammad before the age of 40 years, he likes seclusion in the cave of Hira that used to distance themselves from the indigenous people of "jahiliyah" (ignorance) in Mecca  full of superstition and idolatry. This habit by the Arabs called "tahanuth", performed by him (Muhammad) every month of Ramadhan came.

With frequent “tahanuth”over time he got more and more perfect life, and after his soul is made perfect, he gained a perfect dream, as a bright light like the dawn in the morning, which came on the sidelines of contemplation, which, according to a story that the event occurred in a period of 6 months.


Continue reading Click Here
Continue Reading...
 

www.widiakertapranata.com Copyright © 2009 Girlymagz is Designed by Bie Girl Vector by Ipietoon