Sabtu, 12 Oktober 2013

NILAI-NILAI RELIGI – 18C WEBSITE



NILAI-NILAI RELIGI – 18C WEBSITE
Upload October 14, 2013

    ®  37/32
MEMETIK MAKNA IBADAH QURBAN
Tema Pokok :
Hikmah ibadah  Qurban harus mampu
menjadi daya tangkal  dalam menghadapi kondisi bangsa
Disusun  oleh  :  H. Widjaja Kartadiredja
=================================
Ayat Alqur’an yang dibaca pada Mukadimah :
`s9 tA$uZtƒ ©!$# $ygãBqçté: Ÿwur $ydät!$tBÏŠ `Å3»s9ur ã&è!$uZtƒ 3“uqø)­G9$# öNä3ZÏB 4 y7Ï9ºx‹x. $ydt¤‚y™ ö/ä3s9 (#rçŽÉi9s3çGÏ9 ©!$# 4’n?tã $tB ö/ä31y‰yd 3 ÎŽÅe³o0ur šúüÏZÅ¡ósßJø9$#
Daging (khewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.  Demikianlah Dia  menundukkannya untukmu agar kamu   mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu.  dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS.22 : 37)
=================================

Hadirin  rahimakumullah         
        Beberapa hari lagi jemaah haji yang tengah menjalankan ibadah haji di tanah suci akan memasuki puncak pelaksanaan ibadah haji - wukuf di Arafah. Keesokan harinya tanggal 10 Zulhijjah 1434 H (bertepatan dengan 15 Oktober 2013) mereka akan berada  di Mina.  Di tempat inilah pada 4000 tahun yang lampau terjadi peristiwa sakral, yakni Nabi Ibrahim - pembawa ajaran agama tauhid - menyembelih putranya Ismail atas perintah Allah yang diterimanya melalui mimpi dalam 3 malam berturut-turut. 
        Sementara jemaah haji tengah berada di Mina tanggal 10 Zulhijjah, kaum muslimin dan muslimat  di mana saja berada di belahan bumi ini, merayakan Hari Raya Idul Qurban dan melaksanakan pemotongan qurban, yaitu menyembelih khewan yang dagingnya akan dibagikan kepada kaum Muslimin siapa saja, yang diutamakan kalangan duafa, dan dibolehkan juga diberikan kepada non Muslim sebagai wujud kepedulian terhadap warga di lingkungan tempat tinggalnya.
Apa esensi makna ibadah Qurban?
       Idul Qurban yang dirayakan oleh kaum muslimin dan muslimat di mana saja berada,    esensinya mengandung dua hikmah utama yang harus dipetik dari makna ibadah qurban, yaitu : hikmah pertama, yang terkait dengan nilai-nilai akhlaq yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan putranya Ismail, yang harus diteladani oleh kaum muslimin dan muslimat; hikmah kedua, yang terkait dengan nila-nilai sosial atau kemanusiaan yang harus ditanamkan dalam karakter dan kehidupan keseharian umat muslim.
        Untuk melihat esensi dari makna ibadah qurban, mari kita lihat esensi dari kedua hikmah utama tersebut berikut ini.
Esensi dari hikmah pertama tentang nilai-nilai akhlaq
       Esensi dari hikmah pertama terkait nilai-nilai akhlaq yang harus dipetik dari makna  badah qurban, yaitu yang telah ditunjukkan dalam penyembelihan oleh Nabi Ibrahim  terhadap putranya Ismail, telah diabadikan dalam Alqur’an, diantaranya dalam Surat Ash-Shaffat (QS. 37) yaitu ayat 100 s/d 111, yang cukup jelas diterangkan dalam ayat ayatnya, yaitu :            
      Dalam ayat 100 Nabi Ibrahim  mengucapkan do’a : “Rabbi hablii minash shoolihiin” (Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku seorang anak yang shaleh), lalu dalam ayat-ayat  berikutnya dikatakan :  Maka Kami beri kabar gembira kepadanya (kepada Ibrahim) dengan kelahiran seorang anak yang sangat sabar (yaitu Ismail); Maka ketika anak itu telah sampai pada usia untuk sanggup berusaha bersamanya,  Ibrahim berkata :  “Wahai anakku,  sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”.  Ismail  menjawab : “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu,  insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”; Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim  membaringkan anaknya atas pelipisnya untuk melaksanakan perintah Allah, lalu Kami panggil dia :  “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu”.  Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik;   Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata; Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar; Dan Kami abadikan untuk Ibrahim  (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; “Selamat sejahtera bagi Ibrahim”; terakhir pada ayat 110 dan 111 ditegaskan dalam Firman-Nya : “Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”. 
        Itulah ayat-ayat Alqur’an yang menerangkan akhlaq Nabi Ibrahim dan  putranya Ismail yang diceritakan dalam peristiwa sakral dalam kisah penyembelihan oleh Nabi Ibrahim terhadap  Ismail.  Inilah akhlaq Nabi Ibrahim dan putranya Ismail yang harus diteladani oleh umat muslim, yaitu akhlaq yang menunjukkan   ketaatan, kesabaran, dan keikhlasan sekalipun  ditimpakan kepadanya dalam bentuk ujian dan cobaan yang sangat berat.
Esensi dari hikmah kedua tentang nilai-nilai sosial atau kemanusiaan
       Esensi dari hikmah kedua merupakan pelajaran yang harus ditanamkan di kalangan umat muslim dalam kaitan dengan nilai-nilai sosial atau kewajiban kemanusiaan  terhadap sesama.
       Esensi ini diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan qurban dimana daging qurban itu  dibagikan kepada sesama di lingkungan masyarakat, baik muslim atau non muslim, terutama bagi kalangan yang kurang mampu. Sedangkan “simbol dari penyembelihannya itu sendiri”  mangandung makna “membunuh nafsu khewani dan sifat-sifat buruk lainnya dalam diri”.
       Esensi dari hikmah yang kedua ini mengandung 4 ciri atau pelajaran yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Ibadah qurban adalah ciri bagi seorang hamba yang sungguh-sungguh ingin mendekatkan diri (“taqorrub”) kepada Allah.
2) Ibadah kurban merupakan perwujudah rasa syukur  atas nikmat yang dianugrahkan Allah kepada kita, terutama nikmat iman dan Islam, nikmat hidayah (Alqur’an), nikmat umur dan kesehatan, dan perlindungan dari musibah dan bencana.  
3) Ibadah kurban mengadung hikmah tanggung jawab social yang harus diemban oleh setiap muslim, untuk mengikis habis sifat-sifat egois dan tamak, dan menanamkan kepedulian terhadap orang lain yang menderita, yaitu orang miskin, anak yatim, dan orang-orang yang tidak mampu lainnya.
4) Tumpahnya darah khewan yang disembelih adalah symbol dari upaya membunuh sifat-sifat kebinatangan dan sifat-sifat buruk lainnya dalam diri kita.
       Itulah 4 ciri yang harus kita hayati tentang ibadah qurban dipandang dari segi nilai-nilai sosial atau kemanusiaan.  
Peringatan Rasulullah dalam sebuah hadits
       Terkait dengan fenomena sosial yang dihadapi bangsa saat ini, ada hadits Nabi yang harus dijadikan acuan peringatan bagi kaum muslimin dan bangsa kita umumnya yaitu tentang masalah akhlaq dan moral.  Hadits tersebut mengatakan :  “Apabila akhir zaman semakin dekat, maka banyak orang yang berpakaian jubah, dominasi perdagangan, dominasi perempuan, harta kekayaan melimpah, kemesuman merajalela, kezaliman penguasa, manipulasi takaran dan timbangan, tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang muda, mereka berpakaian kulit domba tetapi berhati serigala, orang yang dianggap ideal saat itu adalah para penjilat” (HR. Thabrani).
       Kalau kita hubungkan bunyi hadits ini dengan fenomena sosial yang dialami bangsa  saat ini khususnya dari segi mentalitas dan moral, masyarakat kita sudah sangat prihatin melihat kenyataan yang ada. Sebagai contoh untuk bahan introspeksi, tanpa bermaksud mendiskriditkan lembaga atau sesesorang,   katakan kasus-kasus yang terjadi belakangan ini, harus  dapat mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran kritis dari semua   kalangan untuk membebaskan bangsa dari mentalitas negatif,  terutama mentalitas korup, yang dapat membahayakan  kelangsungan hidup bangsa. 
       Melihat kenyataan yang tak kunjung datangnya perubahan, barangkali  terapi umum yang harus dilakukan untuk meluruskan akhlaq bangsa dan memperbaiki moral,  yaitu menerapkan pola pandang yang sifatnya normatif dan alamiah, bahwa “manusia harus kembali ke jalan Tuhan mencari keridhaan-Nya”. Artinya upaya ini harus dilakukan melalui peran ulama dan umaro dalam    menegakkan “amar ma’ruf nahi myangunkar” menuju ridha Allah.  Di mana nantinya dalam kondisi yang sudah kondusif orang akan melihat bahwa yang sangat dibutuhkan dalam menjalankan tatanan pemerintahan adalah  kapabilitas yang berlandaskan nilai-nilai moral dan akhlak yang baik.   Dengan demikian ke depan rekrutmen sumberdaya manusia di tingkat  lini  manapun akan  lebih selektif sejalan dengan dibutuhkannya persyaratan kapabilitasnmoral.
Kewajiban ber-amar ma’ruf nahi munkar
        Terkait pemikiran tentang perlunya meningkatkan peran penegakkan  amar-ma’ruf nahi mungkar, untuk  dipakai sebagai bahan acuan, Nabi Saw bersabda : “Man ra ‘aa minkum munkaran falyugha- yirhu biyadihi, fain lamyastathy’ fa bi lisanihi, fain lam yastathy’ fa biqalbihi wa dzlika adh’aful imaan”.  Artinya :  “Kalau diantara kamu melihat kemungkaran, rubahlah kemungkaran itu dengan tangan;  kalau tidak mampu, dengan lisan;  kalau juga  tidak  mampu,  dengan hati.  Itulah selemah-lemahnya iman” (HR Muslim).
      Yang dimaksud memerangi dengan hati adalah membenci kemungkaran, kemudian
 menjauhi, dan memeranginya dalam hati.  Walaupun sikap ini tindakan yang paling lemah, akan tetapi secara mendasar sikap ini akan membentengi diri kaum muslimin dari berbagai kemungkaran dan anti terhadap kemaksiyatan.  Kewajiban ini adalah “fardhu ‘ain” bagi setiap muslim.
Kesimpulan bahasan.
       Dari bahasan materi yang telah dipaparkan, maka dapat digaris-bawahi pentingnya hikmah idul qurban digunakan sebagai landasan moral bagi umat muslim, baik selaku perorangan maupun atas nama lembaga,  yaitu :
Pertama : Dalam posisinya sebagai umat, perilaku setiap muslim harus bercermin pada akhlaq Nabi Ibrahim dan putranya Ismai, agar menjadi manusia yang taat, sabar dan ikhlas, mau membunuh nafsu-nafsu tamak dan serakah, tidak tergoda oleh praktek-raktek yang merugikan masyarakat, bangsa dan bahkan negara, mensyukuri  nikmat yang dianugerahkan Allah, dan   amanah dalam menjalankan  kewajiban. 
Kedua :   Dalam  posisinya sebagai umaro,  beserta perangkat yang ada di bawahnya, harus dapat menstimulasi kondisi kearah terciptanya keadilan di tengah-tengah kehidupan masyarakat, bersinergi dengan aparat terkait  dalam menegakkan tatanan pemerintahan yang adil dan bersih.  Disamping itu tidak  menina-bobokan  orang  (oknum) yang tidak amanah.
Ketiga : Mereka yang memegang amanah dalam bidang penegakkan hukum dan keadilan, harus mampu menegakkann  hukum tanpa pandang bulu. Sebab amanah yang dipegangnya bukan semata-mata amanah manusia, akan tetapi amanah Tuhan yang dalam melaksanakan amanah tersebut berada dibawah janji dan sumpah atas nama Tuhan.
         Sebagai penutup, mari kita camkan  sebuah hadits yang mengatakan :
“Tidaklah suatu kaum yang dilakukan kemaksiyatan di kalangan mereka, dan sebenarnya mereka mampu memberantasnya namun tidak dilakukan, kecuali Allah akan menimpakan azab secara merata kepada mereka” (HR. Abu Daud). 
        Demikian materi khutbah yang kami sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya.
Barakalaahu lii wa lakum fil Qur’aanil adhiim, wa  nafaanii wa iyyaakum bimaa fiihi minal aayaati  wadz-dzikril hakim.  Wa taqabbala minnii wa minkum, tilaa watahu  innahu huwas-sami’ul ‘aliim.∏

Naskah yang dipaparkan di atas kutipan No. 37 dari 45 judul buku (himpunan transkrip Hutbah Jum’at) : “Sampaikan Seruanku Walau Hanya Satu Ayat”.  Penulis H. Widjaja Kartadireja. 
Jika pembaca tertarik dengan  materi lain yang temanya lebih dikaitkan dengan fenomena sosial yang faktual, silakan Pembaca lihat keterangan pada Notifikasi  di bawah ini.
        
      NOTIFIKASI
          “Sampaikan Seruanku          
 Walau hanya satu ayat”      
    ▌Sabda Baginda Nabi Saw tersebut di atas    dipakai judul  buku (himpunan transkrip) khutbah Jum’at,  isi 45 judul Khutbah, tebal 675 halaman ukuran 14,5 x 21 cm, untuk bahan khutbah dalam periode  satu tahun, lihat daftar judul khutbah *).
Dilengkapi Penjelasan Rukun Khutbah yang akan  sangat berguna bagi mereka yang tertarik dengan syiar Islam “terutama bagi kalangan pemula”.
Kata Pengantar oleh KH. Enjang Nasrullah, Pimpinan Harian Pondok gan Pesantren “Almusyahadah”Kota Cimahi, Jawa Barat.
Komposisi topik pertema-pokok :
1)  Aqidah  (9 judul),  2)  Ibadah (8 dul)
3)  Akhlaq (9 judul), 4)  Amar Ma’ruf             nahi munkar (4 judul), 5) Umum  (6 judul), 6)  Islam & kesehatan (9 judul).

  ▌Harga Rp. 125 ribu (termasuk ongkos kirim khusus  di wilayah Jawa Barat).  Harga Rp. 100 ribu untuk yang beli 10 buku. Harga Rp. 85 ribu untuk yang beli minimal 20 buku. Untuk keperluan Pengurus DKM  harga masih bisa dinego.
  ▌Minat beli? Hubungi Widjaja Kartadiredja,
atau SMS via ponsel  0858 6389 7762



bagus







IDENTITAS PENULIS
Nama, H. Widjaja Kartadiredja (Letkol. Purn.)  
Alamat, Jl. Raya Timur 454 Kota Cimahi,  Jawa Barat. Indonesia.  Pendidikan umum,  Fak. Hukum
U.I. di Jakarta tahun 1964; Pedidikan di TNI Angkatan Udara : SEDASPA (Sekolah Dasar Kemiliteran Perwira), (SEKKAU (Sekolah Komando Kesatuan TNI Angkatan Udara) tahun 1980.
Pengalaman terkait dengan proses belajar-mengajar :
1)  Pernah menjadi Instruktur  tidak tetap bidang manajemen (Kepemimpinan) pada Kursus Manajemen Supervisi Tingkat Kepala Biro di PT IPTN  tahun 1989-1992.
2)  Mempelajari HRM (Human Resources Management) Model Thomson CSF Cooperation di Perancis tahun 1992.
3)  Menatar pada Penataran P-4 Tipe 120 jam Provinsi Jawa Barat dalam  pendalaman materi (jaman orde baru) tahun 1991.
4)  Kursus Imam, Khatib dan Mubaligh di Masjid Raya Provinsi Jabar di Bandung tahun 2004.
5)  Pernah mengikuti sebagai Peserta Seminar : “6th International Seminar  on Miracle of Al- Qur’an and As-Sunnah on Science and Technology“ di Bandung, 29 Agustus s/d 1 September 1994.∏

======================================


Keterangan : 
              *) DAFTAR JUDUL KHUTBAH
No.
Judul Khutbah
Tema Pokok
Hal.

1.
Ajaran Syariat Islam sangat Mengedepankan Nilai-nilai  Kesehatan
Islam & kesehat-an (1)

42-57
2.

Menjaga Keikhlasan Hati dalam Beramal.
Aqidah


59-74
3.
Membangkitkan Kesadaran Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Amar ma’ruf


4.
Ngahudangkeun Manah Mikaresep Kana Dzikir (pengantar Bhs. Sunda)
Ibadah
89-101
5.
Pelajaran di Balik Kisah Penyembelihan oleh Nabi Ibrahim terhadap putranya Ismail a.s.(Khutbah Idul Qurban)

Ibadah
103-117
6.
Penyakit Mematikan yang diyakini sebagai  Siksa dari Allah
Islam & kesehat-an (2)
119-133
7.
Hikmah di Balik Peringatan Tahun Baru Hijriyah  

Umum
135-147
8.
Meneladani Akhlak Rasulullah   

Akhlaq
149-161
9..
Tiga Tipologi Hati 

Akhlaq
163-176
10.
Tanda-tanda Penyakit Hati

Akhlaq
178-189
11.
Bahayanya Rokok bagi Kesehatan
Islam & kesehat-an (3)
191-204
12.
Hikmah di Balik Peringatan Kemerdekaan Ke-62 RI.

Umum
205-216
13.
Mencitai dan Mengingat Allah

Aqidah
218-232


14.
Meningkatkan Kadar Iman dan Taqwa.

Aqidah
234-243
15.
Contoh ketaatan dan kesabaran Nabi Ibrahim a.s dan putranya Ismail.

Akhlaq
245-257
16.
Mensyukuri Nikmat Sehat
Islam & kesehat-an (4)
259-272
17.    
Menjaga dan Memelihara Kemurnian Hati

Aqidah
274-285
18.
Hijrah Menuju Kebaikan

Akhlaq
287-299
19.
Gambaran Hidup Manusia menurut Alqur’an

Akhlaq
301-311
20.
Meluruskan Jalan Menuju Keselamatan

Akhlaq
313-324

21.
Makan berlebihan Membahayakan Kesehatan
Islam & kesehat-an (5)
326-338
22.
Natahar Jalan Kasalametan (Pengantar Bhs. Sunda)

Akhlaq
340-356
23.
Karuksakan Akhlak Mawa Mamala kana Kehirupan Bangsa (Pengantar Bhs. Sunda)
Amar ma’ruf
358-268
24.
Kerusakan Akhlak Membawa Petaka pada Kehidupan Bangsa
Amar ma’ruf
370-382
25.
Allah SWT Melukiskan Rasulullah Orang yang Berakhlaq Luhur

Akhlaq
384-399
26.
Memahami Fungsi Makanan yang dapat Membina Tubuh sehat dalam Keluarga.
Islam & kesehat-an (6)
401-411
27.
Hikmah di Balik Peringatan Kemer-dekaan Ke-63 RI

Pumum
413-422
28.
Memahami Hakekat Rukun Islam

Aqidah
423-436
29.
Mengenang Perjalanan Nabi Ibrahim

Aqidah
438-449
30.
Tentang Taubat
Aqidah
451-460
31. 
Sifat Dengki Merusak Kesehatan dan Menghapus Kebaikan.
Islam & kesehat-an (7)
462-470
32.
Bersiap Diri Memasuki Bulan Suci Ramadhan .

Ibadah
473-483
33.
Menahan Lapar dan Meninggalkan Syahwat

Ibadah
485-498
34.
Cara Setan Menggoda Manusia
Aqidah
500-509
35.
Nabi Ibrahim Pembawa Ajaran Agama Tauhid

Aqidah
511-525
36.
Allah Menyukai dan Mencintai Mukmin yang Kuat
Islam & kesehat-an (8)
527-540
37
Memetik Makna Ibadah Qurban
Ibadah
542-552
38.
Makna di Balik Pergantian Tahun Hijriyah.

Umum
554-564
39.
Materi Tambahan Tentang Nasihat Perkawinan

Umum
566-594
40.    
Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Jihad Fisabilillah.
Amar ma’ruf
596-610
41
Fase-fase Perjakanan Usia dan Tantangan Keehatan
Islam & kesehat-an (9)
612-621
42
Meraih Kemenangan di bulan Suci Ramadhan
Ibadah
623-634
43.
I’tikaf di akhir Ramadhan Menyambut Datangnya Lailatul Qadar.
Ibadah
636-647
44.
Menyimak Keagungan Asma Allah di balik Kemenangan Memerangi Hawa Nafsu (Khutbah Idul Fitri).
Ibadah
649-662
 45
Tentang Doa

664-672

Continue Reading...

Rabu, 25 September 2013

BERFIKIR DALAM TATARAN DZIKRULLAH


Upload, September  25, 2013
BERFIKIR DALAM TATARAN DZIKRULLAH
Tema Pokok :
Menafakuri tanda-tanda Kekuasaan dan Keagungan  Allah di alam jagat raya sebagai jalan menuju ma’rifat
diilhami dengan ritual tawaf mengelilingi Ka’bah
Penulis :  H. Widjaja Kartadiredja
TOPIK MATERI
Topik materi tulisan :  1)  Kata Pengantar ;  2) Tentang ayat-ayat kauniah;  3)  Isyarat-isyarat Alqu r’an;  4) Topan besar di jaman Nabi Nuh; 5)  Apakah itu planet Muntaha?;   6)  Membayangkan luasnya wilayah  tatasurya dan galaksi; 7)  Bersujud di bawah kekuasaan dan keagungan Allah;  8) Makna tawaf mengelilingi Ka’bah;  9) Dalam ritual tawaf tersirat Isyarat Ilmiah;   10)  Penutup.
1.       KATA PENGANTAR
                   Artikel ini memaparkan tentang kontemplasi atau penafakuran, yaitu terhadap tanda-tanda kekuasaan dan keagungan Allah di jagat raya, dengan menggunakan keterangan-keterangan dalam ayat-ayat kauniah dalam Alqur’an.  Ayat kauniah adalah ayat yang menerangkan hukum-hukum alam yang berkaitan dengan fenomena-fenomena alam yang dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, adanya pergantian siang dan malam, pergantian musim di permukaan bumi, adanya gerhana mata hari, gerhana bulan, dan lain-lain peristiwa alam, semuanya berkaitan dengan hukum-hukum alam yang  diisyaratkan dalam ayat-ayat kauniah dalam Alqur’an.
        Tulisan ini tepat sekali dibaca oleh para jema’ah haji  atau umrah, dimana esensi tulisan mengandung tema penting yang harus dimanfaatkan, yaitu untuk    menafakuri fenomene-fenomena alam, yang ada kaitannya dengan isyarat-isyarat dalam Alqur’an, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di abad modern sekarang ini. 
                             Dengan membaca tulisan ini, pembaca akan tertarik untuk lebih jauh menafakuri kekuasaan dan keagungan Allah di alam ini, bahwa di balik alam nyata yang kita saksikan, ada sebuah kekuasaan dan keagungan yang luar biasa yang hanya bisa ditafakuri oleh manusia yang  mau membukakan hatinya untuk memahami dan meyakini kekuasaan dan keagunggan Allah di alam jagat raya.      
                           Menafakuri dan berfikir tentang kekuasaan dan keagungan Allah “konotasinya” adalah sama dengan “berfikir dalam tataran dzikrullah”. Hal ini merupakan salah satu jalan ma’rifat kepada Allah yang pasti amat sangat disukai Allah sebagaimana hadist qudsi mengakatan : “Annallaha khalaqal insaana li ma’rifatihi”, yang artinnya “tidak semata-mata Allah menciptakan mahluk (manusia) melainkan agar mereka berma’rifat kepada-Nya”.
2.       TENTANG AYAT-AYAT KAUNIAH
Dalam surat Ali Imran (QS.3) ayat 96 diterangkan bahwa rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia beribadah kepada Allah ialah Baitullah yang ada di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semesta alam. Ayat ini selain mengandung makna ibadah, juga mengandung makna kauniyah.  Dalam Alqur’an yang disebut sebagai “hudan lin-nas” selain berisi petunjuk dan hikmah bagi manusia tentang ibadah, ahlak, dan aspek-aspek kahidupan lainnya, terdapat didalamnya sejumlah ayat kauniah, yaitu ayat mengenai hukum-hukum alam di jagat raya.   Menurut DR. Zaghlul Al-Najjar, Profesor Geologi dari King Fahd University, Saudi Arabia, dalam Seminar Internasional ke-6 “Mu’jizat Alqur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK” yang diadakan di Bandung tahun 1994,  dalam Alqur’an terdapat sejumlah ayat kauniyah dan yang membicarakan tentang bumi. Karena itu dipandang dari makna kauniyah, yang dimaksud dengan “manjadi petunjuk bagi semesta alam” (“hudan lil ‘alamien”) tersirat pengertian berupa petunjuk untuk memperhatikan, menafakuri dan mengadakan penelitian terhadap fenomena-fenomena alam untuk mengetahui dan meyakini tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya.  Mengetahui dan meyakini kekuasaan Allah  di jagat raya salah satunya dilakukan melalui penelitian-penelitian ilmiah.   Betapa banyak kata-kata dalam ayat-ayat Alqur’an yang menyerukan manusia untuk berfikir.   Kini hasil pemikiran dan penelitian para ilmuwan  tentang alam dan fenomenanya telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang, dalam meningkatkan kemajuan peradaban di muka bumi.
       Menurut penelitian para ahli, ada lebih dari 1000 ayat kauniah dalam Alqur’an, dan diantaranya terdapat 461 ayat kauniah yang menerangkan tentang bumi dan kehidupan. Keterangan ini pernah diungkapkan oleh DR. Jaghlul al-Najjar, Profesor Geologi dari King Fahd University, Saudi Arabia, pada Seminar Internasional ke-6 tentang “Miracle of Alqur’an and As-Sunnah on Science and Technologi” (Mu’zijat Alqur’an dan As-Sunnah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi) yang diadakan di Bandung pada tahun 1994, bertempat di PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (sekarang PT. Dirgantara Indonesia). Seminar ini diadakan  atas kerjasama ICMI dengan Rabithah Alam Islami, Saudi Arabia.
3.       ISYARAT-ISYARAT ALQUR’AN
Dalam peradaban manusia diabad-abad belakangan ini, sebagai contoh, orang sudah mengenal dan percaya bahwa bumi itu bulat, dan berputar pada porosnya sambil mengelilingi surya di angkasa bebas pada garis edarnya, yang mendatangkan adanya siang dan malam, dan adanya pergantian musim di permukaan bumi yang diketahui  dari tentang pengetahuan tatasurya atau ilmu astronomi.  
Pengetahuan tatasurya ini ditemukan oleh peradaban Barat yang sesungguhnya jauh sebelumnya tentang tatasurya itu telah diisyaratkan dalam Alqur’an, di antaranya dalam Surat Ar-Ra'd ayat 2 yang mengatakan : "Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘’Arasy’’ dan menundukkan matahari dan bulan yang masing-masing beredar dalam waktu yang telah  ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesarannya) agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu".  Bahkan dalam Surat Fushshilat (QS.41) ayat 53, yang seolah-olah Allah berjanji akan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya dengan firman-Nya sebagai berikut : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa (Alqur’an) itu benar. Tidak    cukukah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi sanksi atas segala sesuatu?”.
         Sedemikian banyaknya isyarat-isyarat Alaqur’an tentang tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya, seperti dikatakan oleh DR. Zaghlul Al-Najjar, tersebar dalam 461 ayat kauniyah.
4.       TOPAN BESAR Di JAMAN NABI NUH
          Banyak kejadian alam yang dapat kita saksikan di alam ini seperti gerhana matahari, gerhana bulan, gempa bumi, dan lain-lain, semuanya merupakan tanda-tanda dari kekuasaan Allah di jagat raya. Di dalam Alqur’an disebutkan tentang topan besar di jaman Nabi Nuh yang sangat menarik untuk ditafakuri. Menurut buku “Alqur’an, Dasar Tanya-jawab Ilmiah” yang disusun oleh Nazwar Syamsyu, yang sumbernya diambil dari keterangan-keterangan dalam beberapa buku ensyclopaedia, bahwa topan itu telah mengguncangkan permukaan bumi demikian hebatnya, yang telah mengakibatkan berubahnya wilayah-wilayah daratan menjadi lautan, diantaranya Lautan Hindia, Laut Merah dan Laut Tengah, dahulunya sebelum kejadian topan Nuh merupakan sebuah daratan. Penyebab terjadinya topan itu karena “berubahnya” garis edar bumi (dan planet-planet lainnya) akibat perubahan posisi surya oleh pangaruh serombongan comet yang oleh ilmuwan dinamakan Comet Hailey. Comet ini besarnya luar biasa dan memiliki panjang kira-kira 6 kali jarak dari bumi ke surya. Jarak dari bumi ke surya 93 juta mil.
        Isyarat Alqur’an tentang topan Nuh ini diantaranya terdapat dalam surat Al-Qomar (QS.54) ayat 11 yang menerangkan bahwa  setelah Nabi Nuh berdo’a kepada Tuhannya karena telah didustakan oleh kaumnya, Allah berfirman : “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan curahan air”. Membukakan pintu-pintu langit artinya membukakan atmosfir di langit sehingga dapat mendatangkan peristiwa topan besar di permukaan bumi. Bukti peninggalannya ada dalam surat Hud (QS.11) ayat 44, yang menjelaskan bahwa kapal Nabi Nuh terdampar di puncak gunung Judi, setelah menyelamatkan orang-orang yang beriman dan membinasakan kaum Nuh yang zalim. Gunung Judi adanya di Armenia Selatan yang berbatasan dengan Mesopotamia.
       Isyarat-isyarat Alqur’an tentang kekuasaan Allah di jagat raya diungkapkan dalam bahasa yang sesuai dengan tingkat akal pikiran manusia pada saat Alqur’an diturunkan. Namun demikian dalam perkembangan peradaban manusia kemudian, isyarat-isyarat itu tidak bertentangan dengan hasil-hasil penelitian ilmiah, dan sebaliknya  dapat membuktikan fenomena-fenomena dan hukum-hukum alam di jagat raya. 
5.      APAKAH ITU PLANET  MUNTAHA?
       Dalam wilayah tatasurya terdapat planet-planet yang dinamakan : Mercury, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptune, dan Pluto. Dari hasil panalitian oleh para ilmuwan, telah diketahui jarak dari masing-masing planet ke surya sebagai pusat edarnya yaitu : 1) Planet Mercury jaraknya ke surya 36 juta mil, 2) Planet Venus jaraknya ke surya 67.2 juta mil, 3) Planet Bumi jaraknya ke surya 93 juta mil, 4) Planet Mars jaraknya ke surya 141,5 juta mil (manurut perhitungan para ahli, sebagai penomena alam planet Mars setelah mengelilingi surya dalam waktu 284 tahun, akan kembali berada pada posisi jarak terdekat dengan bumi). 5) Planet Jupiter jaraknya ke surya 90,254 juta mil, 6) Planet Saturnus jaraknya ke surya 886 juta mil, 7) Planet Uranus jaraknya ke surya 1.785 juta mil, 8) Planet Neptune jaraknya ke surya 2.793,4 juta mil, 9) Planet Pluto jaraknya ke surya 3.700 juta mil. Menurut para ilmuwan, Pluto adalah planet yang terjauh dalam tatasurya yang sudah bisa diteliti.
        Di belakang planet Pluto, katanya masih ada bintang atau planet yang tidak bisa diteliti dengan peralatan yang ada saat ini. Ada yang memperkirakan bahwa planet itu adalah Muntaha, yaitu nama yang disebut dalam Alqur’an ketika mi’rajnya Nabi SAW ke langit. Namun benar tidaknya anggapan ini, hanya Allah yang mengetahui. Sebab dalam hal mi’rajnya Nabi SAW ke langit pun ada yang menafsirkan hanya dengan ruhnya saja, dan ada pula yang berpendapat dilakukan dengan jasad (tubuh). Dalam hal ini, ada baiknya ditafakuri surat An-Najm (QS.53) ayat 13-18 yang mengisyaratkan tentang kekuasaan dan keagungan Allah, yang artinya : ”Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jiibril itu (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”.
6.         MEMBAYANGKAN LUASNYA WILAYAH TATA SURYA DAN GALAKSI
Menurut para ahli, planet yang paling jauh di tatasurya yang katanya berada di belakang Pluto, yang belum bisa diteliti, lamanya mengelilingi surya sebagai pusat edarnya “diperkirakan” dalam waktu seribu tahun. Sebagai perbandingan, bumi yang jaraknya ke surya 93 juta mil mengelilingi surya dalam waktu 1 tahun dan Pluto yang jaraknya ke surya 3.700 juta mil mengelilingi surya dalam waktu 248 tahun. Bisa dibayangkan luasnya wilayah tatasurya (termasuk sebuah planet yang berada di belakang Pluto yang peredarannya mengelilingi surya diperkirakan seribu tahun), yaitu sebuah wilayah di angkasa bebas, dengan lingkaran yang panjangnya sama dengan garis edar planet yang menempuh perjalanan 1000 tahun.            
Kalau kecepatan edar planet sama dengan kecepatan gerak cahaya seperti yang ditafsirkan oleh para ahli, maka panjangnya garis kelilling wilayah tatasurya adalah 1000 tahun kali kecepatan gerak cahaya yang per-detiknya 300.000 Km.
Apakah ramalan di atas itu benar? Wallahu ‘alam. Tapi ramalan itu dapat menggugah hati untuk menafakuri tanda-tanda keagungan Allah di jagat raya. “Dia mangatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) seribu tahun menurut perhitunganmu”, demikian firman Allah dalam surat As-Sajdah (QS32) ayat 5. “Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) supaya azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”, demikian firman Allah dalam surat Al-Haj (QS22) ayat 47.
          Menurut para ahli, tatasurya itu hanya sebagian kecil saja dari wilayah angkasa bebas yang dinamakan galaksi. Galaksi ialah gugusan bintang-bintang di langit (dalam Alqur’an disebut “buruj”), yaitu bintang-bintang yang dikelilingi oleh bulan dan planet-planet yang merupakan sebuah tatasurya. Karena sangat jauhnya dari bumi, sebuah bintang yang kelihatan di langit bukanlah sebagai sebuah bintang, akan tetapi sebuah gugusan bintang yang berupa tatasurya. Padahal dalam jagat raya, oleh para ahli diramalkan adanya jutaan galaksi, yang antara galaksi ke galaksi lainnya jaraknya jutaan tahun cahaya. Kalau demikian halnya, betapa luasnya jagat raya, tidak akan terbayangkan oleh pikiran manusia. Semua galaxi, sebagaimana firman Allah dalam Alqur’an, tunduk pada ketentuan dan perintah Allah, yang menjadikan alam jagad raya sebagai ciptaan-Nya yang maha sampurna, tanpa cacat, demikian pula dengan semua mahluk ciptaan-Nya di seisi jagat raya.
          Untuk menambah keyakinan tentang kekuasaan dan keagungan Allah maka tafakurilah surat Al-A’raf (QS.7) ayat 54 yang artinya : “Sesungguhnya tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu ia bersemayam di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, (dan diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang masing-masing tunduk kepada perintah-Nya”. Demikian pula firman Allah dalam surat Al-Ma’arij (QS.70) ayat 1-7 yang artinya : “Ada orang yang meminta didatangkan azab yang akan menimpa. (Dijawab) : “Untuk orang-orang kafir, tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya (yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksa itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)”.
7.       BERSUJUD DI BAWAH KEBESARAN DAN KEAGUNGAN ALLAH    
Dengan manafukri ayat-ayat tentang kekuasan dan keagungan Allah di jagat raya, maka tawaf bagi kaum muslimin yang menjalankan ibadah haji atau ibadah umrah, merupakan pertanda sujud di bawah keagungan Allah karena iman kepada-Nya, membenarkan kitab-Nya, memenuhi janji-Nya, mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, mohon ampunan dan mohon keselamatan di dunia dan di akhirat, dan terhindar dari siksa neraka. Disamping itu dengan tawaf, berarti menafakuri kekuasaan dan keagungan Allah, pencipta langit dan bumi dan pemelihara alam semesta.
8.       MAKNA RITUAL TAWAF  MENGELILINGI KA’BAH
Dari sudut ilmiah, dengan pemahaman tentang tatasurya dan makna surat Ali Imran ayat 96, ada yang menfsirkan bahwa dengan tawaf mengelilingi Kabah Baitullah tujuh putaran melambangkan ber-putarnya bumi pada porosnya, yang membuat adanya pergantian siang dan malam tujuh kali dalam seminggu. Demikian pula sa’i yang dilakukan sesudah tawaf dalam rukun haji dan rukun umrah, yaitu berjalan tujuh balikan antara Shafa dan Marwa, melambangkan gerak zigzagnya bumi (ke utara dan ke selatan) dalam mengelilingi surya sebagai pusat edarnya, yang mendatangkan perubahan musim di permukaan bumi.
       Selama ini sa’i “dimitoskan” dari segi sejarah Nabi Ibrahim, untuk mengingatkan kisah Hajar dan Ismail yang kehabisan air dan perbekalan ketika ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di lembah gurun yang gersang. Karena sangat gersangnya lembah gurun ini digambarkan dalam buku “The Life of Muhammad” karangan Tahia Al-Ismail (Abdul-Qasim Publishing House, Jeddah), hingga tak seekor lalat pun yang bisa hidup di sana. Kini lembah gurun itu telah menjadi kota Makkah Al-Mukarramah dalam “tapak” sajarahnya Nabi Ibrahim, tempat bertawaf dengan Kabah Baitulah-nya yang diberkahi di alam ini.
9.       DALAM RITUAL TAWAF TERSIRAT ISYARAT ILMIAH
Tidak berlebihan kalau diakhir tulisan ini Penulis cuplik buah pikiran Bapak Ahmad Muflih Saefuddin tentang penafsiran Alqur’an yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dikemukakan dalam makalahnya yang berjudul “Alqur’an, Paradigma IPTEK dan Kehidupan”, yaitu pada Seminar Internasional ke-6 “Mu’jizat Alqur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK” tahun 1994 di Bandung. Beliau mengatakan bahwa sangat tidak mustahil Alqur’an sekarang tengah dikaji oleh orang-orang non-muslim untuk kapentingan ilmu pengetahuan dan teknologi ruang angkasa. Sebab menurut beliau formula Alqur’an merupakan paradigma dan premis IPTEK modern, yang dipakai oleh mereka untuk mencari kemungkinan membangun “real estate” di ruang angkasa atau di dasar laut, sebagai jalan keluar atas pembiakan manusia yang tak terhingga di bumi ini. Sementara menurut beliau, umat Islam sekarang masih tertatih-tatih dalam menafsirkan Alqur’an yang dititik-beratkan pada segi linguistiknya, sehingga yang tersintuh bukan isinya tetapi bahasanya. Sedangkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kini makin melesat, untuk “membuktikan” hasil ciptaan Allah, penguasa langit dan bumi.
       Karena itu kalau tawaf benar-benar ditafakuri, maka tawaf mengelilingi Ka’bah Baitullah, selain mengandung makna ibadah yang bersifat ritual dalam menjalankan rukun haji dan rukun umrah, tawaf bagaikan “membawa isarat ilmiah” bagi umat manusia di sepanjang peradabannya. Andaikan Ka’bah bisa bicara seperti manusia, kepada mereka yang bertawaf, Ka’bah akan berkata : “Wahai hamba-hamba Allah, bersujudlah kepada Allah pencipta langit dan bumi, seraya menafakuri tanda-tanda kekuasaan dan keagungan-Nya di jagat raya, agar dapat menyingkapkan rahasia alam ciptaan-Nya untuk kemajuan peradaban”.
       Mengenal akan tanda-tanda kekuasaan dan keagungan Allah termasuk pekerjaan ma’rifat yang sangat disukai Allah, sebagaimana firman Allah dalam Hadits Qudsi yang menyatakan : Tidak semata-mata Allah menciptakan manusia melainkan agar mereka berma’rifat kepada-Nya. (“Annallaha khalaqal insaana li ma’rifatihi”.
10.     PENUTUP
          Demikian paparan tentang kontemplasi, semoga  bermanfaat, khususnya bagi para jemaah haji dan jemaah umrah musim haji  tahun 1434 Hijriyah, dengan iringan  do’a “semoga menjadi haji yang mabrur”. 
Juga semoga bermanfaat bagi  kaum muslimin dan muslimat umumnya, khususnya Penulis, sebagai penggugah untuk banyak tafakur dan syukur, dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhana huwa taala, Yang Maha Pencipta dan Maha Pemelihara semesta alam. Aamiin.
          Jika terdapat kesalahan dalam penafsiran, mohon maaf, dan saya dikembalikan kepada pembaca sabagai bahan koreksi dan perbaikan.  
          Salam hormat Penulis, H. Widjaja Kartadiredja.

Bandung,West Java, Indonesia, 25/09/2013.

Continue Reading...
 

www.widiakertapranata.com Copyright © 2009 Girlymagz is Designed by Bie Girl Vector by Ipietoon