Senin, 20 Juli 2015

MARI KITA BANGUN WAWASAN BARU BIDANG PEMBINAAN SDM BERLANDASKAN NILAI-NILAI MORAL DAN BUDAYA KERJA *




MARI KITA BANGUN WAWASAN BARU BIDANG PEMBINAAN SDM BERLANDASKAN NILAI-NILAI MORAL DAN BUDAYA KERJA *

Penulis :  Widjaja Kartadiredja/Letkol.Purnawirawan

1.      Dua potensi sumberdaya manusia yang sangat esensial untuk tegaknya peradaban suatu bangsa dalam pemerintahan adalah masalah “mentalitas moral” dan “budaya kerja”.  Tanpa adanya dua potensi tersebut adalah mustahil suatu bangsa akan mampu menghadirkan kehidupan yang adil dan sejahtera bagi rakyatnya, karena kelemahan mentalitas moral bangsa yang akan mudah  didominasi oleh pengaruh kekuatan luar, apalagi dalam situasi yang makin kuatnya cengkraman  faham kapitalisme dan neoliberal di berbagai aspek kehidupan bangsa. Karenanya kedua faham tersebut harus disikapi dengan anti pati atau bahkan ditenggarai bahwa kapitalisme dan neoliberal sebagai musuh bangsa.
2.      Siapa pun warga negara yang memiliki pemikiran kritis terhadap fenomena yang dihadapi bangsa saat ini, sudah semestinya akan bermawas diri dalam menyikapi kondisi bangsa belakangan ini yang dikenal dengan istilah “era globalisasi”. Sesungguhnya  era globalisasi lebih banyak membawa dampak negatif  ketimbang ekses positifnya.  Sebagi contoh, seorang pakar ekonomi kerakyatan pernah mengatakan bahwa ekonomi kapitalis  melegalkan kaidah “yang kuat memangsa yang lemah”.  Ini menandakan bahwa dalam bidang ekonomi pun seolah kaum kapitalis menerapkan hukum kolonial yang sangt jauh dari hukum kemanusiaan. Sebuah pemikiran besar yang telah dicanangkan coleh Bapak Presiden Jokowi di awal pemerintahan Jokowi-JK, yaitu tentang “revolusi mental” yang harus mendapat dukungan penuh dari segenap komponen bangsa, agar bangsa ini mampu menggapai perubahan menuju kejayaan, yang harus diyakini bahwa  revolusi mental ini harus mampu diwujudkan dalam realita.
3.      Terkait pencanangan revolusi mental tersebut di atas, saya seorang Purnawirawan, dalam kapasitas sebagai penulis gagasan dalam bidang Pembinaan SDM, ingin menyumbangkan sebuah kreasi tentang “product system” dalam bidang Pembinaan SDM yang tema pokoknya “perlunya membangun wawasan, pola pandang atau perspektif baru dalam bidang Pembinaan SDM, yang landasan filosofinya diorientasikan pada upaya peningkatan kinerja dan perbaikan etika kerja”, yang bentuk programnya sangat sederhana, pragmatis, dan efektive untuk dibakukan sebagai perangkat sistem dalam penilaian kinerja di setiap lembaga atau institusi pengelola sumberdaya dalam skala nasional, yang sangat prospektif untuk disebar-luaskan dalam wilayah NKRI, tanpa akan banyak membebani anggaran.  Perangkat ini berfungsi sebagai sarana efektif dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia berlandaskan nilai-nilai moral dan budaya kerja.
4.      Sejak tahun 2009 saya telah menyusun gagasan ini yang diyakini sangat tepat untuk digunakan sebagai solusi dalam  merubah wawasan, pola pandang atau perspektif baru dalam bidang pembinaan SDM oleh para Manajer  HRM di mana saja mereka berada, baik di jajaran pemerintahan atau pun perusahaan, dimana materi tersebut untuk jangka panjang dapat dijadikan  bahan pewarisan nilai-nilai tentang budaya kerja lewat lintas generasi, yang untuk pelaksanakaannya dalam wilayah NKRI tidak akan memerlukan biaya besar, karena adanya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam penyelenggaraan training lewat “in house training” yang hanya membutuhkan waktu 3 (tiga) hari pelatihan. 
5.      Gagasan ini menggunakan referensi : “Principles for Implementing a Human Resources Management Policy” Thomson CSF Cooperation, Perancis, berikut hasil studi banding yang dilakukan oleh Penulis tahun 1992 tentang Sistem Penilaian Kinerja di Lembaga Pelatihan di bawah perusahaan Thosmson, yakni Thomson CSF Cooperation, Perancis, dengan melihat penerapan sistem HRM Thomson CSF ini di BRGM Company di Kota Bordeaux, 400 KM di luar kota Paris, sebuah perusahaan besar yang bergerak dalam bidang Geologi dan Mineral, yang memiliki 1.000 orang ingeneer kimia dan geologi. 
6.       Hasil garapan Penulis tentang gagasan ini telah dituangkan dalam 5 (lima) Buku Petunjuk Program Pelatihan Kinerja yang durasi pelatihannya dalam 3 hari.   Program pelatihan ini diberi judul “Program Pelatihan Kinerja” dengan maksud untuk mempopulerkan kata kunci tentang istilah “kinerja” yang pelaksanaan pelatihannya direncanakan dilakukan dalam bentuk “in house training” di lembaga/institusi di jajaran pemerintahan atau pun perusahaan.  Kelima petunjuk materi pelatihan tersebut adalah :
          a.            Buku-1 : berisi panduan Pelatihan Kinerja 140 halaman (untuk pegangan Peserta Pelatihan). 
          b.            Buku-2 :  berisi bahan presentasi Pelatihan Kinerja 120 halaman (untuk   
                         pegangan Pengajar).
          c.            Buku-3 :   Proposal Umum Program Pelatihan Kinerja, 40 halaman (untuk
                         bahan pamasaran program pelatihan).
          d.            Buku-4 :  Profil Buku Panduan Pelatihan Kinerja, 32 halaman (untuk bahan  
                         pemasaran program pelatihan). 
          e.            Buku-5 : Pola Penilaian Kinerja dengan 12 Faktor, 20 halaman (untuk aplikasi penilaian tingkat Direct Supervisor) yang akan digunakan untuk membangkitkan motivasi kerja bagi tenaga kerja. 
         
Materi pelatihan ini oleh Penulis ingin diabdikan bagi kepentingan bangsa, maksudnya pelatihan dimasud tidak untuk dikomersilkan seperti pelatihan-pelatihan bidang SDM lain yang umumnya dengan biaya yang tidak ringan.  Langkah awal penyebar-luasan materi program pelatihan ini dilakukan melalui penjualan buku-buku materi yang ditujukan khusus kepada para manajer HRM atau siapa saja yang bertugas  di bidang pengelolaan SDM di jajaran pemerintahan atau pun perusahaan. 

7..      Harga buku s/d 31/12/2015 akan di-diskon 40%, yaitu :
          a.            Buku Petunjuk lengkap (Buku-1 s/d Buku-5)  :  Rp. 1.200.000,-
                        s/d 31/12/2015 dengan diskon 40% menjadi Rp. 720.000,-.
          b.            Buku-1, Buku-2 : masing-masing  a’ Rp. 500.000,-
                        s/d 31/12/2015 dengan diskon 40% menjadi a’ Rp. 300.000,-.
          c.            Buku-3, Buku-4, dan Buk-5 masing-masng a’ Rp. 50.000,-.
                        s/d 31/12/2015 dengan diskon 40% menjadi a’ Rp. 30.000,-.
          Harga tersebut ditambah ongkos kirim dalam Kota Bandung Raya Rp. 10.000,- dan di luar kota Bandung Rp. 20.000,-.   
8.      Pembelian buku materi oleh peminat dilakukan melalui pemesanan dengan data peminat berupa nama pembeli dan alamat penerima kiriman buku sesuai KTP, pengiriman disampaikan kepada widjaja kartadiredja  lewat e-mail, atau lewat pesan di facebook widiakertapranata. Buku akan dikrimkan setelah pengiriman harga buku dan ongkos kirim sudah ditransfer ke rekening widjaja kartadiredja. dengan catatan  nomor rekeningnya  akan disampaikan lewat inbox.  
9.      Penjualan materi pelatihan yang ditujukan khusus kepada para manajer HRM atau siapa saja yang bertugas di bidang SDM baik di jajaran pemerintahan atau pun perusahaan, adalah sebagai langkah awal pemasaran “product system” di bidang SDM, dimana nantinya para manajer HRM diharapkan dapat memberikan masukan tentang urgensinya  diselenggarakan pelatihan lewat “in house training”.  Penulis yakin dengan materi pelatihan yang sudah siap diajarkan lewat “in house training”, maka para manajer HRM nantinya akan berperan aktif dalam penyiapan kader  pengajar yang dalam Buku-4 (Profil Buku Panduan Pelatihan Kinerja) ditargetkan dalam 3 tahun pertama pelatihan harus dapat men-train 1.800 trainee, diantaranya 100 orang akan dijadikan tim pengajar yang sifatnya “mobile” untuk menyelenggarakan pelatihan di lembaganya dan di wilayah regional lainnya, dalam rangka penyebar-luasan pemahaman misi dalam program pelatihan kinerja secara merata dalam skala nasional. Kegiatan ini adalah sebagai sarana dalam membangun wawasan baru dalam bidang pembinaan SDM yang landasan filosofinya diorientasikan pada peningkatan kinerja  dan perbaikan etika kerja.  Penulis optimis bahwa program ini dapat dilaksanakan kurang dari 3 tahun jika di awalnya bisa disiapkan kader pengajar 100 orang yang sifatnya “mobile” mengajar per-kelas 3 hari.
          Catatan : Jika diperlukan oleh pemerintah yang sifatnya “part timer”, Penulis siap untuk membantu mensuksekan gagasan ini yang misinya sejalan dengan makna yang terkandung  dalam  “revolusi mental”  yang telah  dicanangkan  oleh Bapak Presiden di awal pemerintahan Jokowi-JK. Penulis sangat berharap tautan ini bisa sampai kepada Bapak Presiden dan beliau berantusias dengan gagasan ini.  Insya Allah jasa pelatihan ini akan sangat bermakna bagi kepentingan bangsa, dengan do’a : semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan hidayah-Nya serta senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada Bangsa Indonesia untuk kejayaan bangsa. Aamiiin.
10.    Atas patisipasi segenap pembaca tautan ini serta perhatiannya untuk memberikan respon, Penulis mengucapkan terima kasih.    

                                                                                         Bandung,    20  Juli 2015
                                                                                  Salam  Hormat Penulis/Penggagas,
                                                                           WidjajaKartadiredja/Letkol. Purnawirawan





LAMPIRAN

Fenomena terkait Karakter Bangsa.
          Untuk memberikan gambaran kondisi bangsa terkait mentalitas moral dan budaya kerja,  perlu dilihat dampak negatifnya lebih jauh, untuk dijadikan bahan kajian dalam mencarikan solusi yang tepat untuk memperbaikinya. Dibawah ini lebih jauh dijelaskan sebagai berikut: 
Pertama, dampak buruk yang diyakini sebagai akibat dari kelemahan mentalitas moral adalah : 1)  makin meraja-lelanya kejahatan korupsi yang membuat rakyat bertambah miskin; 2) mewabahnya barang haram yang mengancam kerusakan moral generasi muda dan masa depan bangsa,  yaitu narkoba yang kini pemerintah sudah menetapkan Indonesia dalam tingkat “darurat narkoba”, namun belum ada gebrakan dari tindakan represif yang membuat para penjahat narkona berhenti beroperasi, bisa jadi karena rendahnya hukuman yang diberikan pada pelaku; 3) merebaknya prostitusi dan kejahatan seksual yang masih dalam “pembiaran” dan masih dijadikan ajang polemik, padahal perbuatan tersebut jelas-jelas perbuatan haram yang dimurkai Allah; dan 4) nafsu hedonistis dan senang  hidup berlebih-lebihan di tengah  kehidupan rakyat yang tengah didera kemiskinan, dan tidak bermawas diri dalam kondisi bangsa yang penuh keprihatinan. 
Kedua, dampak buruk dari segi kelemahan budaya kerja dapat dilihat dari indiksasi-indikasi sebagai berikut : 1) makin lunturnya nilai-nilai pengabdian terutama  di kalangan pegawai/tenaga kerja baik di jajaran pemerintahan ataupun perusahaan; 2) rendahnya nilai kinerja dan kurang tertarik pada upaya-upaya perbaikan sistem;  3) kerja asal-asalan dan cari gampangnya; dan 4) meremehkan tanggung jawab. 
          Hal yang juga harus jadi bahan mawas diri bagi semua kalangan, adalah bahwa bangsa ini membutuhkan nilai-nilai keteladanan dari para pejabat nepara dan pemegang kekuasaan, baik dari kalangan elit politik, pejabat lembaga negara, dan para pimpinan pemerintahan di pusat dan di daerah. Kata kunci untuk mengembalikan kepercayaan dan menanamkan kepengikutan dalam kepemimpinan, yang terkadang bisa lunturnya  kepercayaan rakyat, adalah “ada atau tidaknya nilai-nilai keteladanan” pada diri seorang sosok atau  pejabat negara yang seharusnya jadi panutan. 
Sebab utama porak-porandanya mentalitas moral dan budaya kerja.
          Sebab utama porak-porandanya mentalitas moral, diprediksi kuat karena pengaruh faham kapitalistisme dan neoliberal yang berlandaskan budaya materialistis, yang di balik aktivitasnya punya misi tertentu yang oleh seorang pakar ekonomi kerakyatan secara simbolis dikatakan “yang kuat memangsa yang lemah”, dan dalam kehidupan sosialnya bersifat egoist, mengutamakan kepentingan pribadi, mengesampingkan kepentingan umum dan mengabaikan nilai-nilai moral.   Puncaknya dirasakan di “era globalisasi” sekarang ini.
          Dalam Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 dalam Sidang Panitia Persiapan Penyelidik Kemerdekaan Indonesia untuk menyusun Konstitusi sebelum hari Proklamasi 17/8/1945, Bung Karno sudah memperingatkan untuk menjauhi faham kapitalisme, dimana  peringatan ini hendaknya dijadikan catatan penting untuk mendapatkan perhatian.     
Deskripsi Wawasan baru dalam bidang Pembinaan SDM.
 Kesimpulan dari pengamatan sektoral tentang kondisi bangsa, menunjukkan  betapa lemah mentalitas moral dan budaya kerja pada sebagian kalangan bangsa kita, yang diprediksi kuat penyebabnya adalah akibat pengaruh faham kapitalistisme dan budaya materialistis.  Sangat diharapkan manusia Indonesia punya daya tangkal untuk memerangi kedua isme tersebut, agar dijauhkan dari karakter bangsa yang cenderung egoist,  abai pada kepentingan umum, korup, dan senang hidup berlebih-lebihan, disamping malas, tidak produktif,  dan minus keteladanan. Fenomena yang diungkapkan  dalam tulisan ini dan atau tulisan-tulisan lain pada dasarnya harus disikapi dengan program pembinaan yang tidak keluar dari koridor/tema pokok tentang “pencerahan mentalitas moral dan budaya kerja”, yang tentunya tujuannya akan sejalan dengan tujuan “revolusi mental” yang pernah dicanangkan oleh Bapak Presiden Jokowi di awal pemerintahannya.
Solusi yang yang disarankan adalah perlunya  membenahi sistem HRM yang tujuannya utuk merubah perspektif atau pola pandang baru dalam bidang pembinaan SDM  yang landasan filosofinya diorientasikan pada upaya  peningkatan kinerja dan perbaikan etika kerja. 
Membangun wawasan baru dalam bidang pembinan SDM, sama halnya dengan membenahi dan meningkatkan peran sistem HRM jika pernah “termarginalkan” dalam manajemen pemerintahan khususnya dalam bidang “human resources”, menuju peningkatan kualitas SDM yang berlandaskan nilai-nilai moral dan budaya kerja. Membangun wawasan baru dalam bidang pembinaan SDM adalah tugas  pokok para Manajer HRM di setiap lembaga/institusi baik di jajaran pemerintahan maupun perusahaan. ∏
Referensi : Princeples for Implementing a Human Resources Management Policy, Thomson CSF Cooperation, Perancis.   



Continue Reading...

Rabu, 15 Juli 2015

TENTANG MALAM QODAR DAN HIKMAH RAMADHAN


TENTANG MALAM QODAR DAN HIKMAH RAMADHAN
(Tayangan ulang 29 Ramadhan 1436 Hijriyah)


Penulis :
H. Widjaja Kartadiredja


Bagi kaum muslimin dan muslimat yang sudah mentradisikan i’tikaf di masjid pada malam-malam 10 hari terakhir bulan Ramadhan tak urung konsentrasi perhatiannya pada masalah “malam qodar” atau  yang lebih dikenal dengan sebutan “lailatul qadar”,  yang dalam Alqur’an Surat Al-Qadar dinyatakan   sebagai malam kemuliaan, malam yang lebih baik dari seribu bulan.  Malam qodar itu akan menjadi kesan paling indah di hati kaum Muslim dan Muslimat dalam  perjalanan ibadah di bulan suci Ramadhan, yang selalu ditunggu dan diburu kedatangannya.

Salah satu isyarat datangnya  “malam qodar” menurut keterangan sabda Rasulullah, diantaranya ialah :  “beribadah di malam itu merasakan lezatnya ibadah, adanya ketenangan hati, dan adanya kenikmatan bermunajat kepada Allah Rabbul ‘Alamiin”.  Tanda lainnya  menurut  HR Muslim  adalah :  “bulan  tatkala  muncul berukuran  saparuh nampan”, dan banyak lagi tanda-tanda yang musykil lainnya. Tanda-tanda itu seolah-olah menunjukkan  bahwa “substansi malam” punya makna yang spesifik  yang diyakini sebagai saat ijabah doa, yang membawa rahmat menuju   jalan  keselamatan untuk kehidupan di dunia dan di akhirat, yang mendatangkan suasana yang penuh kekhusuan untuk meraih  keridhaan Allah bagi hamba yang  dihatinya telah tertanam kuat  kadar  iman dan taqwa.  

Kenapa  malam qodar diberi sebutan sebagai  “malam yang lebih baik dari seribu bulan”?. Selain alasan Asbabun Nuzul,  tentunya secara logika adalah untuk memberi penekanan  makna ibadah  dipandang dari sisi kedalaman pengamalan dan  amaliahnya, yang ditandai dengan adanya waktu-waktu tertentu yang sangat dimuliakan.  Dalam hal ini malam qodar adalah  waktu  turunnya wahyu yang pertama (Alqur’an) dari Lauhil Mahfuzh lewat perantaraan Jibril di Gua Hira.   Juga  malam qodar itu pun turun saat  Nabi Musa berdialog dengan Tuhan di Bukit Thursina. 

 Karena  itu betapa mulianya malam qodar sebagai tonggak  peringatan terhadap waktu terjadinya masalah basar yang mengatur tentang kehidupan manusia dan tentang keyakinan terhadap hal-hal ghaib, sehingga malam qodar dinyatakan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tapi sejauh mana mengimplementasikan  makna “lebih baik dari  seribu bulan”, inilah barangkali hal yang harus menjadi bahan kajian.

 Barangkali  fakta yang tak dapat dielak adalah tentang kebiasaan atau bahkan budayai bangsa kita yang cenderung  lebih bersifat “seremonial” dan “simbolis” ketimbang dari segi kinerja dan amaliahnya. Sebagai contoh, kalau dalam hal keagamaan  lebih mengutamakan ritualnya ketimbang mengutamakan amaliahnya, dan kalau dalam urusan kenegeraan dan kemasyarakat lebih mengutamakan seremonialnya dan simbolisnhya ketimbang mengutamakan kinerja dan kualitasnya.   Oleh karena itu usai Ramadhan tidak cukup hanya sampai pada pelaksanaan solat Idul Fitri, akan tapi harus berlanjut pada implementasi dari hikmah Ramadhan  yang dibawa dari perjuangan  meni rjalankan ibadah puasa sebulan penuh dan amalan-amalan ibadah lainya, dalam menghadapi ibulan-bulan paska Ramadhan.


Menurut keteragan dalam tafsir Jalalain  dalam Asbabun Nuzul Surat Al-Qadar, Imam Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadits melalui Mujadid yang telah menceritakan, bahwa di kalangan orang-orang Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang setiap malam selalu salat hingga pagi hari, dan siang harinya selalu berjihad melawan musuh-musuh Allah hingga sore harinya.  Hal tersebut dilakukannya selama  seribu bulan terus-menerus. Maka  Allah menurunkan firman-Nya :  “Lailatul Qadar atau malam kemuliaan, itu  lebih baik dari seribu bulan”. Maksudnya beramal saleh  pada malam Lailatul Qadar lebih baik dan lebih besar  pahalanya dari pada amalan yang dilakukan dalam  seribu bulan oleh laki-laki dari Bani Israil itu.

Kenapa  malam qodar diberi sebutan sebagai  “malam yang lebih baik dari seribu bulan”?. Selain alasan Asbabun Nuzul,  tentunya secara logika adalah untuk memberi penekanan  makna ibadah  dipandang dari sisi kedalaman pengamalannya dan  amaliahnya, yang ditandai dengan adanya waktu-waktu tertentu yang sangat dimuliakan.  Dalam hal ini malam qodar adalah  waktu  turunnya wahyu yang pertama (Alqur’an) dari Lauhil Mahfuzh lewat perantaraan Jibril di Gua Hira.   Juga  malam qodar itu pun turun saat  Nabi Musa berdialog dengan Tuhan di Bukit Thursina.  

Karena  itu tentunya betapa mulianya malam qodar sebagai tonggak  peringatan terhadap waktu terjadinya masalah basar yang mengatur tentang kehidupan manusia dan tentang keyakinan terhadap hal-hal ghaib, yang  sangat logis kalau malam kodar dinyatakan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tapi sejauh mana mengimplementasikan  makna “lebih baik dari  seribu bulan”, inilah barangkali hal yang harus menjadi bahan kajian.

 Barangkali  fakta yang tak dapat dielak adalah tentang kebiasaan, atau bahkan budaya, dari bangsa kita yang cenderung  lebih bersifat “seremonial” dan “simbolis”. Sebagai contoh, kalau dalam hal keagamaan  lebih mengutamakan ritualnya ketimbang mengutamakan amaliahnya, dan kalau dalam urusan kenegeraan dan kemasyarakat lebih mengutamakan seremonialnya dan simbolisnhya ketimbang mengutamakan kinerja dan kualitasnya.   Oleh karena itu usai Ramadhan tidak cukup hanya sampai pada pelaksanaan solat Id, akan tapi harus berlanjut pada implementasi hikmah Ramadhan  yang dibawa dari perjuangan  menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dan amalan-amalan ibadah lainya, dalam menghadapi bulan-bulan paska Ramadhan.

Kesan paling indah yang pasti dirasakan paska Ramadhan oleh kaum Muslimin dan Muslimat di manapun berada, yaitu :   pertama, selain adanya  rasa puas  karena telah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, kedua karena   telah melewati puncak-puncak malam  pada 10 hari terakhir bulan suci Ramadan khusus bagi yang mentradisikan menjalankan i’ tikaf di masjid, yang salah satu malam diantaranya mungkin  saja itu adalah “malam qodar”,insya Allah keduanya akan membawa pasan Ramadhan sebagai bekal ruhaniah untuk menata kehidupan yang lebih baik di bulan-bulan mendatang.       

  
Salah satu isyarat datangnya  “malam qodar” menurut keterangan beberapa  sabda Rasulullah, diantaranya ialah :  “beribadah di malam itu merasakan lezatnya ibadah, adanya ketenangan hati, dan adanya kenikmatan bermunajat kepada Allah Rabbul ‘Alamiin”.  Tanda lainnya  menurut  HR Muslim  adalah :  “bulan  tatkala  muncul berukuran  saparuh nampan”, dan banyak lagi tanda-tanda yang musykil lainnya.
Tanda-tanda itu seolah-olah menunjukkan  bahwa “substansi malam” punya makna yang specific, yang diyakini sebagai saat ijabah doa, yang membawa rahmat menuju jalan  keselamatan untuk kehidupan di dunia dan di akhirat, yang mendatangkan suasana yang penuh kekhusuan untuk meraih  keridhaan Allah bagi hamba yang  dihatinya telah tertanam kuat  kadar  iman dan taqwa.  
Malam qodar yang umumnya di sebut Lailatul Qadr itu hanya datang di bulan Suci Ramadhan, di salah satu malam pada 10 hari terakhir  Ramadhan.   Namun demikian bagi kaum Muslimin yang taat, Allah SWT membukakan pintu langit bagi hamba-hamba-Nya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan bermunajat, yakni melalui qiyamul lail dan  solat tahajud  di sepertiga malam terakhir pada setiap malam di luar Ramadhan.   Kiranya moment dari ibadah ini dapat dimaknai sebagai pengganti malam qodar yang datangnya hanya setahun sekali di bulan Suci Ramadhan.   
 Dalam Alqur’an (QS. 2 :  186) Allah berfirman : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat.  Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku ......” Karena itu kesan indah tentang “malam qodar” itu mudah-mudahan dapat dimanifestasikan dalam  bentuk penanaman kebiasaan bangun malam untuk menjalankan  solat  tahajud, yang harus dapat dilakukan dengan istiqomah.
Tiap Ramadhan tiba rasanya bulan itu berlalu begitu cepat untuk segera  kembali meninggalkan kita, dan tentunya  saat berlalunya bulan itu di hati kita pun  akan terucap kata “Selamat tinggal Ramadhan”  sebagai pesan kerinduan pada bulan itu, yang tahun depan bulan itu belum tentu masih akan dijumpai lagi.    Karena itu  hendaknya kita  jadikan “puncak malam” pada bulan-bulan di luar Ramadhan benar-benar dijadikan sebagai pengganti “malam qodar” tempat  meraih rahmat pada sepertiga malam terakhir saat  turunnya rahmat ke langit dunia hingga terbit fajar.
                 
Kenapa  malam qodar diberi sebutan simbolis” sebagai  “malam yang lebih baik dari seribu bulan”, tentunya untuk memberi penekanan makna  ibadah  dipandang dari sisi kedalaman pengamalannya dan amaliahnya.        Karena itu dengan puasa Ramadhan  sebulan penuh, dan   pesan yang dibawa lewat  keistimewaan “lailatul qadr” hendaknya kaum  Muslimin dan Muslimat  di  mana pun berada benar-benar merasa memperoleh pesan ruhaniah untuk meningkatkan perubahan mentalitas dan kinerja dalam kehidupan amaliah kesehariannya di luar bulan  suci Ramadhan.   Dengan demikian terdapat  keselarasan dan  keseimbangan antara segi  ritual ibadah dan  segi amaliahnya, sebab sudah menjadi sebuah adagium dalam kehidupan khususnya bagi kaum Muslimin dan Muslimat,  bahwa sebaik-baik manusia selain taqwa,  adalah bermanfaat bagi sesamanya.
Lebih jauh rujukan yang harus dipegang dalam sikap hidup yang berkeselarasan antara lahiriah dan ruhaniah, sebagai hikmah  Ramadhan  yang harus membekas dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah firman Allah dalam Surat Al-Qashash (QS. 28) ayat 77 yang mengandung 3 pilar utama, yaitu :  1)  adanya sikap hidup yang berkeseimbangan antara  tujuan kepetingan dunia dan tujuan kepetingan akhIrat;  2)  selalu melakukan kebaikan yang  disebut  ”ikhsan” dan orangnya  disebut “mukhsin”;  3) tidak membuat kerusakan, baik yang ada kaitan dengan alam lingkungan, nilai-nilai akhlak dan moral, dan aspek-aspek kehidupan lainnya  termasuk dalam menjalankan tatanan kehidupan bangsa dan negara oleh para penguasa.  
Demikian gambaran malam qodar dan hikmah Ramadhan. Semoga bermanfaat,  Amiin yaa Rabbal ‘alamiin.
Penulis, Penyusun  “Ebook Kinerja” dan “Nilai-nilai Religi” di sebuah Website, tinggal di Kota Cimahi, Jawa Barat.



Continue Reading...

Senin, 06 Juli 2015

WHAT IS THE “LAILAT Al-QADR”?



Values of Religi-15b
Uploaded July 07, 2015


WHAT IS THE “LAILAT Al-QADR”?  
Author : Widjaja Kartadiredja

In  welcoming the holy of Ramadhan 1434 Hijriyah, to the moslems (muslimin and muslimat) wherever they are, I say :  “Congretulation  for  conducting the  fast in  a full month with incerily”. 
In the holy of  Ramadhan, there’s a tremendous moment in  the last ten night - that always awaited by the moslems - that is the Lailat al-Qadr, the night is a better night than a thousand months.
To remain and prepare ourselves for a wonderful evening glorify it, we present a decription of “What is the Lailat al-Qadr?”.   

The Moslems whose Allah Blesse,

The Prophet Muhammad SAW said: "If my people know all features contained by the month of Ramadhan, they would be expecting any month was Ramadhan". This shown that the month of Ramadhan is a tremendous  month from the  others.   The verse of 185 Albaqarah letter explained that Al-Qur’an was revealed in the month of Ramadhan. In another statement, in  Al-Qadr letter (QS.97) 1-3, God said : (1). "Verily, We have been down (Al Quran) on the Night of Glory', (2). "And do you know what the Night of Glory  is?" (3). "The Night of Glory is better than a thousand months".

The Night of Glory is the Laylat al-Qadr.  That is the night of glory and grandeur, since the beginning the night of Al-Qur'an's revelation was down. Worship at this night is much greater reward, and better than a good works for a thousand months.

According to the scholars, before man was created, the Qur'an was revealed in Lauhil Mahfuz  Lauhil Mahfuz was on below  the seventh heaven. The first night  of Lailat al-Qadr down to  earth  from Lauhil Mahfuz, in the Cave of Hira. Also, In other  story, Lailat Al-Qadr down when Moses came to the dialogue with God in Mount Thursina. “Tafsir” Jalalain mention, that Ibn Abu Hatim and Al Wahidi, both of which have been narrate by Mujahid, the Prophet Muhammad  told about a man from among Children of  Bani Israel, who bore arms for a thousand months for the fight in Allah's way. The  Moslems feel surprise for that, so then Allah revealed His word in the letter of Al-Qadr  verses 1-3 as discribed above. The idea suggests that worship of God in the Glory  Night (that is the Laylat al-Qadr) is better than a good work for a thousand  months.

For the result, it is not  surprisingly  for  the Moslems embed  a tradition of the “i'tikaf” (stay worship in mosques) in the last 10 days of Ramadhan. The ”i’tikaf” is performed in congregation,  starting by the prayer of Laylat al-Qadr begins at about 24.00, Followed by dhikr, reading salawat, read wirid and other practices of worship, on beside waiting for Laylat al-Qadr be coming, then closed with prayer of "tahajud" twice and prayer of "intent" (demand)  which all the activities finished at around 02:00. The Moslems believe that this times the grace of God and forgiveness will be derived, and all the prayer will be granted.

The activity of "i'tikaf" is performed on  the odd nights of the last 10 days of  Ramadhan.

To gain a benefit and add confidence about “aqeedah”, let us look at the events of  experience  (the Prophet) Muhammad received the first revelation, the prophetic message, which carries the mission rahmatan lil alamin (mercy for all of nature).  That was said, when (the Prophet) Muhammad before the age of 40 years, he likes seclusion in the cave of Hira that used to distance themselves from the indigenous people of "jahiliyah" (ignorance) in Mecca  full of superstition and idolatry. This habit by the Arabs called "tahanuth", performed by him (Muhammad) every month of Ramadhan came.

With frequent “tahanuth”over time he got more and more perfect life, and after his soul is made perfect, he gained a perfect dream, as a bright light like the dawn in the morning, which came on the sidelines of contemplation, which, according to a story that the event occurred in a period of 6 months.

According to the statement, that these events are part of the prophetic signs. Coinciding with the arrival of the dream, he viewed the Arab community in Mecca was out of the nature of truth and deep of error. They have been swept away by the worship of idols and other beliefs are no less damaging. 

He found that the essence of the truth, only true God, creator and sustainer of the universe all its contents. There is no God but Him, He is the Most Gracious and Most Loving.   Valued human dignity solely because of his deeds. Any person who doing good although it would seem as a heavy ”dzarah” (small ant or dust), and whoever does evil despite weighing dzarah will appear (or will return to him ) (QS.99: 7-8). This means that all human actions, good or bad will be rewarded with a perfect. That Paradise is true, Hell is true. Whoever worshiped but Allah, it will be put in hell, where the return of those who disbelieve and idolatrous.

Events of the first revelation in the cave of Hira can be obtained from the narrative of Ayesha ra.  In a hadith, he said:

 "The first revelation received by Prophet Muhammad began with a dream true. In the dream he saw a bright light like the crack of dawn in the morning.
Then God shown him to implement seclusion in the cave of Hira for a couple of nights, then returned to the family (Khadija). It conducted by him so many times until one day he was surprised by the arrival of the truth in the cave of Hira. An angel came to him and said, "Read". He replied: "I can not read ". Prophet tell then further:" The angel then came to me and hugged me so I feel very weak, then I released ". He said again,"Read".  "I replied:  "I can not read". He approached me again and held me until I was completely helpless, then I was released. He said again, "Read". I replied: "I can not read." Then the angel said: "Read with the name of God that Creaters. He has created man from a clot. Read it, and the God the Most Gracious. He taught man what he did not know ". After the hearing read by an angel (Gabriel) and Remembered in the hearts, the Prophet Muhammad as soon go home to Khadijah in a state of whole body trembled, and said: "I am blanket, cover me, cover me". He then covered up to lose his  fear. After calm returned the Prophet  told Khadijah what had experienced in the cave of Hira.

That's a bit of the story when the first revelation down in the cave of Hira, as one of the features of Ramadhan was always commemorated on 17th of Ramadhan as a warning “Nuzulul Qur'an”. This happen  should be contemplated in heart in the mosque when performing I'tikaf as a lesson that can affirm “aqeedah”, in hopes of coming right on the night of Laylat al-Qadr downs as a secret of God.

It will be very nice if we read a piece of lyrict from the song of Bimbo entitled "Laylat al-Qadr", which gives a picture of serenity, while  waiting for  Laylat al-Qadr coming on contemplation : 

"Wild life is not sounded, the mountain holding his breath, the wind stopped, the trees subject, Laylat al-Qadr in the fall of the dark night, in the holy Qur'an down to earth ".

The Prophet also told to seek the peace of the night,  as his saying:

"Seek Laylat al-Qadr night at ten days et the end of Ramadhan. But if one among you can not afford, then do not lose the last 10 days of the seventh” (Hadith Muslim History).

The Prophet informs in his any saying about the signs of Laylat al Qadr, namely:

1) The air and atmosphere of a quiet morning. Ibn Abbas said: Messenger of Allah said: "Laylat al-Qadr is the night of peace and quiet, not too hot nor too cold, the sun rises the next day with a weak red light" (Hasan hadith).

2) Light a weak sun, shining brightly not strong the next day. Ubay ibn Ka'b of r.a. that the Prophet said: "Laylat al-Qadr night  shown in the morning the sun rises up like a light high without a tray" (Hadith Reported by Muslim).

3) Sometimes carried in a dream. As sometimes experienced by some of his companions of the Prophet.

4) The Moon appears half-sphere. Abu Hurairoh r.a. has ever been said :  We never talk about Laylat al Qadr in the Messenger of Allah, he said: "Who of you who still remember when the moon appeared, a half-size trays" (Reported by Muslim Hadith).

5) The night is bright, no heat, no cold, no clouds, no rain, no wind, and nothing is t hrown on the night with a star (meteor throws the devil).

As spoken by the Prophet: "LilatulIQadr is a night light, no heat, no cold, no clouds, no rain, no wind, and nothing is thrown on the night with a star (meteor throws the devil) (Hadith history of at-Tabrani with Hasan isnad).

6)   Those who worship at the evening has nicely sense, sobriety and enjoyment on worship to Rab was not like other nights.

That is a signs of Laylat al Qadr. May we include servants who can find the night of Laylat al Qadr. Amien.
         
author
   Widjaja Kartadiredja

















Continue Reading...

Sabtu, 06 Juni 2015

PERLU MEMBANGUN WAWASAN BARU DALAM BIDANG PEMBINAAN SDM




Koridor :    Pencerahan Mentalitas Moral dan Budaya Kerja.

PERLU MEMBANGUN WAWASAN BARU
DALAM   BIDANG PEMBINAAN SDM

Penulis :  Widjaja Kartadiredja
(Penulis e-book Kinerja di sebuah Website, tinggal di Kota Cimahi, Jawa Barat).

Latar belakang Pemikiran. 
          Dua potensi manusia yang diyakini sebagai prayarat paling mendasar untuk tegaknya suatu peradaban, adalah masalah “mentalitas moral” dan “budaya kerja”. Kedua potensi ini dapat menentukan baik buruknya peradaban dan jadi pertanda untuk mengukur baik-buruknya kemajuan suatu bangsa.
          Dalam agama manapun diajarkan, bahwa kedua potensi tersebut  harus dibangun dalam diri manusia, agar menjadi manusia yang  berahlak dan beramal sholeh. Karenanya jika kedua potensi ini tidak mendapatkan pembinaan yang baik secara normatf, tidak mustahil akan lahir generasi bangsa yang tidak berperadaban.
          Kalau kita cermati kondisi bangsa sejak Indonesia merdeka yang telah berjalan  hampir 70 tahun, dipandang dari segi mentalitas moral dapat kita asumsikan bahwa karakter bangsa nyaris tidak mengalami perubahan dan bahkan bertendensi semakin bertambah rentan terhadap pengaruh-pengaruh luar yang dapat merusak dan memporak-porandakan ketahanan moral.  Begitu halnya dengan budaya kerja, tidak salah, dan dapat dimaklumi kalau  kita katakan bangsa kita terkesan jadi bangsa yang malas, tidak produktif, dan rendah kinerja.
          Permasalahan yang sangat krusial ini harus benar-benar “jadi bahan koreksi dan mawas diri” bagi semua kalangan.
Fenomena terkait Karakter Bangsa.
          Untuk memberikan gambaran kondisi bangsa terkait mentalitas moral dan budaya kerja,  perlu dilihat dampak negatifnya lebih jauh, untuk dijadikan bahan kajian dalam mencarikan solusi yang tepat untuk memperbaikinya. Dibawah ini lebih jauh dijelaskan sebagai berikut: 
Pertama, dampak buruk yang diyakini sebagai akibat dari kelemahan mentalitas moral adalah : 1)  makin meraja-lelanya kejahatan korupsi yang membuat rakyat bertambah miskin; 2) mewabahnya barang haram yang mengancam kerusakan moral generasi muda dan masa depan bangsa,  yaitu narkoba yang kini pemerintah sudah menetapkan Indonesia dalam tingkat “darurat narkoba”, namun belum ada gebrakan dari tindakan represif yang membuat para penjahat narkona berhenti beroperasi, bisa jadi karena rendahnya hukuman yang diberikan pada pelaku; 3) merebaknya prostitusi dan kejahatan seksual yang masih dalam “pembiaran” dan masih dijadikan ajang polemik, padahal perbuatan tersebut jelas-jelas perbuatan haram yang dimurkai Allah; dan 4) nafsu hedonistis dan senang  hidup berlebih-lebihan di tengah  kehidupan rakyat yang tengah didera kemiskinan, dan tidak bermawas diri dalam kondisi bangsa yang penuh keprihatinan. 
Kedua, dampak buruk dari segi kelemahan budaya kerja dapat dilihat dari indiksasi-indikasi sebagai berikut : 1) makin lunturnya nilai-nilai pengabdian terutama  di kalangan pegawai/tenaga kerja baik di jajaran pemerintahan ataupun perusahaan; 2) rendahnya nilai kinerja dan kurang tertarik pada upaya-upaya perbaikan sistem;  3) kerja asal-asalan dan cari gampangnya; dan 4) meremehkan tanggung jawab. 
          Hal yang juga harus jadi bahan mawas diri bagi semua kalangan, adalah bahwa bangsa ini membutuhkan nilai-nilai keteladanan dari para pejabat nepara dan pemegang kekuasaan, baik dari kalangan elit politik, pejabat lembaga negara, dan para pimpinan pemerintahan di pusat dan di daerah. Kata kunci untuk mengembalikan kepercayaan dan menanamkan kepengikutan dalam kepemimpinan, yang terkadang bisa lunturnya  kepercayaan rakyat, adalah “ada atau tidaknya nilai-nilai keteladanan” pada diri seorang sosok atau  pejabat negara yang seharusnya jadi panutan. 
Sebab utama porak-porandanya mentalitas moral dan budaya kerja.
          Sebab utama porak-porandanya mentalitas moral, diprediksi kuat karena pengaruh faham kapitalistisme dan neoliberal yang berlandaskan budaya materialistis, yang di balik aktivitasnya punya misi tertentu yang oleh seorang pakar ekonomi kerakyatan secara simbolis dikatakan “yang kuat memangsa yang lemah”, dan dalam kehidupan sosialnya bersifat egoist, mengutamakan kepentingan pribadi, mengesampingkan kepentingan umum dan mengabaikan nilai-nilai moral.   Puncaknya dirasakan di “era globalisasi” sekarang ini.
          Dalam Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 dalam Sidang Panitia Persiapan Penyelidik Kemerdekaan Indonesia untuk menyusun Konstitusi sebelum hari Proklamasi 17/8/1945, Bung Karno sudah memperingatkan untuk menjauhi faham kapitalisme, dimana  peringatan ini hendaknya dijadikan catatan penting untuk mendapatkan perhatian.     
Deskripsi Wawasan baru dalam bidang Pembinaan SDM.
 Kesimpulan dari pengamatan sektoral tentang kondisi bangsa, menunjukkan  betapa lemah mentalitas moral dan budaya kerja pada sebagian kalangan bangsa kita, yang diprediksi kuat penyebabnya adalah akibat pengaruh faham kapitalistisme dan budaya materialistis.  Sangat diharapkan manusia Indonesia punya daya tangkal untuk memerangi kedua isme tersebut, agar dijauhkan dari karakter bangsa yang cenderung egoist,  abai pada kepentingan umum, korup, dan senang hidup berlebih-lebihan, disamping malas, tidak produktif,  dan minus keteladanan. Fenomena yang diungkapkan  dalam tulisan ini dan atau tulisan-tulisan lain pada dasarnya harus disikapi dengan program pembinaan yang tidak keluar dari koridor/tema pokok tentang “pencerahan mentalitas moral dan budaya kerja”, yang tentunya tujuannya akan sejalan dengan tujuan “revolusi mental” yang pernah dicanangkan oleh Bapak Presiden Jokowi di awal pemerintahannya.
Solusi yang yang disarankan adalah perlunya  membenahi sistem HRM yang tujuannya utuk merubah perspektif atau pola pandang baru dalam bidang pembinaan SDM  yang landasan filosofinya diorientasikan pada upaya  peningkatan kinerja dan perbaikan etika kerja. 
Membangun wawasan baru dalam bidang pembinan SDM, sama halnya dengan membenahi dan meningkatkan peran sistem HRM jika pernah “termarginalkan” dalam manajemen pemerintahan khususnya dalam bidang “human resources”, menuju peningkatan kualitas SDM, yang berbasiskan mentalitas moral dan budaya kerja. Membangun wawasan baru dalam bidang pembinaan SDM adalah tugas  pokok para Manajer HRM di setiap lembaga/institusi baik di jajaran pemerintahan maupun perusahaan. ∏         Referensi : Princeples for Implementing a Human Resources Management Policy, Thomson CSF Cooperation, Perancis.   


Continue Reading...
 

www.widiakertapranata.com Copyright © 2009 Girlymagz is Designed by Bie Girl Vector by Ipietoon